Tentang Opini Masyarakat

September 5, 2008

Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa atau Mafia Pendidikan ?

Filed under: Uncategorized — myself @ 2:39 am

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi semua lapisan masyarakan kian sulit. Hal ini banyak dikarenakan dengan kompetensi pendidik yang teramat sangat tidak merata. Hal ini lah yang akan menjadikan suatu sekolah itu favorite atau non favorite. Semakin favorite sekolah itu, artinya bisa “marketable” atau mempunya nilai jual. Ujung – ujungnya adalah penarikan duit tinggi dari para orang tua murid, yang saat ini semakin tercekik oleh situasi ekonomi yang konon kata SBY-JK kian ‘membaik’. Hal ini sehingga menimbulkan asumsi-asumsi bahwa guru sebenarnya adalah mafia pendidikan, berbanding terbalik dengan cap ‘Pahalawan tanpa tanda Jasa’. Apakah semua guru seperti itu. Ya tentunya tidak dunk!  Pada saat saya SMA dulu, saya membuat tulisan pada pelajaran PSPB yang diacungi jempol oleh guru saya, meskipun ini adalah tulisan pedan, bukan klise. Saya membuat statement bahwa ada sebenarnya guru yang masih dapat diberi penghargaan sebagai pahlawan, tapi itu guru di daerah terpencil, yang berusaha keras untuk meningkatkan pendidikan bangsa. Dengan segala jerih payah, bahkan untuk mendapatkan tambahan penghasilan (sebagai guru saat itu penghasilannya teramat kecil), ada yang menjadi pemulung, ato usaha lainnya di luar waktu mengajar di sekolah. Guru-guru inilah yang hanya berhak mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan. Rata-rata guru di daerah kota besar di Jawa , rasanya sangat jarang yang memenuhi kriteria pengabdian setara itu. Alih-alih meningkatkan kecerdasan bangsa, guru bahkan menjadi makelar atau mafioso pendidikan. Hal ini harus diberantas. Guru dipersilahkan minggat dari sekolah bila hanya untuk memupuk kekayaan, silakan menjadi wirausahawan kalau ingin kaya. Selain itu perlu semakin digalakkannya standarisasi kompetensi guru, ini musti sangat dipaksakan. Yang tidak kompeten ya mungkin bisa dicarikan kompetensi lainnya, misalnya diarahkan ke seni budaya. Ratakan standar pendidikan di Indonesia! Sehingga seperti halnya di Jerman, maka sekolah-sekolah atau Universitas sampai ke daerah terpencilpun mempunyai standar yang setara. Sehingga istilah sekolah favorite bisa ditekan seminimal mungkin. Setiap masyarakat bisa mendapatkan pendidikan layak yang setara. Berikut ini merupakan petikan dari mediaindonesia mengenai statement walikota tentang adanya guru yang menjadi mafia pendidikan.

————–

Jumat, 05 September 2008 00:01 WIB
PUNGLI
Wali Kota Tuding Guru Mafia Pendidikan
BEKASI (MI): Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad menuding sejumlah pihak di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) dan para guru di Bekasi adalah mafia pendidikan. 
Tudingan itu dilontarkan Wali Kota Bekasi pascapemecatan sebanyak 10 kepala sekolah negeri di Bekasi dari jabatan mereka karena diduga menarik iuran penerimaan siswa baru tanpa mengikuti prosedur yang ditetapkan pemerintah kota setempat. 
“Jika kebijakan saya mengenai pemecatan 10 kepala sekolah dianggap sebuah kesalahan oleh pejabat Disdik, yang melontarkan pernyataan tersebut adalah penjahat pendidikan yang sebenarnya,” kata Mochtar kepada wartawan di Bekasi, kemarin. 
Menurut Mochtar, Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) Kota Bekasi telah diterjunkan untuk mencari tahu siapa saja pejabat baik dari lingkungan Disdik maupun guru yang berusaha membiaskan persoalan tersebut sebagai kesalahan Wali Kota. “Sejumlah pejabat sudah diketahui membela para kepala sekolah yang dicopot,” katanya tanpa menyebutkan siapa nama pejabat yang dimaksud. 
Dengan nada tinggi, Wali Kota Bekasi menegaskan pejabat yang terlibat dalam kasus tersebut akan mengalami nasib sama dengan 10 kepala sekolah yang dicopot. “Tunggu saja tanggal mainnya,” tegas Mochtar. 
Ke-10 kepala sekolah negeri yang dicopot itu adalah lima kepala SMPN, yaitu Adin Wahyuni (Kepala SMPN 2), Mohamad Ridwan (Kepala SMPN 3), Alri Ningsih (Kepala SMPN 10), Ahmad Zuraidi (Kepala SMPN 9), dan Uka Sukara (Kepala SMPN 18). Adapun Empat lainnya adalah kepala SDN, yakni Uyun Suryana (Kepala SDN IV Margajaya), Ratna Nurhayati (Kepala SDN V Margajaya), Ujang Tedy Supriatna (Kepala SDN Jatimekar I), dan Sahdan (Kepala SDN Ciketing Udik I). Selain itu Kepala SMAN 2 Bahrum juga dipecat. 
“Ke-10 kepala sekolah itu terbukti melanggar aturan. Mereka harus dicopot dari jabatan masing-masing karena melakukan pungutan liar (pungli) yang menyebabkan orang tua murid terbebani,” kata Wali Kota Bekasi. (GG/J-2)
 
http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MjgwODI=

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: