Tentang Opini Masyarakat

Agustus 26, 2008

Elpiji Naik Tiap Bulan ? Buseeeeeeet

Filed under: Uncategorized — myself @ 12:36 pm

Di tengah-tengah usaha yang lagi lesuh, masyarakat dikejutkan dengan
pengumuman Pertamina menaikkan harga elpiji ukuran 12 kg, dan mengurangi
diskon ukuran 50 kg (otomatis harganya menjadi naik juga). Mulai berlaku,
Senin, 25 Agustus 2008. Dunia usaha rumah makan, terutama level menengah
ke bawah tentu akan paling merasa terpukul. Biaya usaha sudah pasti akan
naik dengan cukup signifikan. Usaha sudah sepi, biaya malah bertambah.
Lebih memberatkan lagi adalah di pasaran kenaikan harga elpiji tersebut
rata-rata lebih tinggi daripada yang ditetapkan Pertamina. Misalnya,
Pertamina menetapkan harga ukuran 12 kg menjadi Rp 69.000/tabung.
Kenyataannya, di pasaran harga jual di atas Rp 70.000.. Bahkan ada yang
sampai Rp. 80.000/tabung! Pihak Pertamina mengatakan bahwa kenaikan harga
ini dilakukan karena Pertamina tidak mau rugi terus. Jadi, barangkali
maksudnya, biarlah kerugian Pertamina itu dialihkan ke masyarakat saja.
Seperti biasa, masyarakat pun marah-marah. Pengamat pun menulis kritik di
koran-koran. Tetapi’ juga seperti biasa, Pertamina berpegang pada
peribahasa: “anjing menggongong kafilah tetap berlalu.” Atas
suara-suara protes tersebut, Pertamina seolah berkata, silakan marah-marah
sampai mulut berbusa, silakan menulis kritik sampai jari bengkak, kenaikan
harga elpiji ini bukan sekarang ini saja. Tapi nanti Pertamina akan
menaikkannya lagi setiap bulan! “Nanti, harga gas elpiji di
Indonesia akan mengikuti harga gas dunia…Tidak ada lagi subsidi.
Kecuali untuk ukuran 3 kg..” Kata Juru Bicara Pertamina, Wisnuntoro.
Itu artinya harga gas elpiji nanti untuk ukuran 15 kg, minimal menjadi Rp.
136.800/tabung! Dengan harga sedemikian bias eksiskah pengusaha rumah
makan mengah ke bawah? Mau kembali ke minyak tanah? Minyak tanah sudah
langka, Bung! Dalam rangka program migrasi penggunaan minyak tanah ke
elpiji, saat ini saja minyak tanah sudah sulit didapat. Apalagi dalam
jumlah yang reklatif banyak. Nah, berbicara tentang elpiji 3 kg. Saya jadi
teringat dengan program Pertamina untuk mengalihkan pemakaian minyak tanah
ke gas elpiji, yang dikampanyekan selama sekitar satu setengah tahun ke
masyarakat-masyarakat kecil yang sebagai pemakai utama minyak tanah.
Tujuan pemerintah adalah agar masyarakat tidak menggunakan minyak tanah
lagi untuk keperluan memasak, beralih ke gas elpiji. Agar terjangkau
dibuatlah elpiji ukuran 3 kg dengan harga hanya Rp 15.000/tabung.
Pemerintah berupaya “memaksa” masyarakat pemakai minyak tanah
untuk segera pindah ke elpiji. Kampanyenya mengatakan alasan “harus
pindah” ke elpiji adalah karena antara lain; elpiji lebih bersih,
lebih murah, dan lebih aman daripada minyak tanah. Bersusah-susah
Pemerintah mengkampanyekan migrasi minyak tanah ke gas elpiji tersebut.
Upaya tersebut tidak mudah karena masyarakat tersebut sudah sejak lama
menggunakan minyak tanah, banyak yang enggan menggunakan elpiji dan tidak
tahu caranya. Setelah sekitar satu tahun kampanye itu mulai menunjukkan
hasilnya, dengan mulainya masyarakat pengguna minyak tanah itu beralih ke
elpiji. Eh, hal ini malah menunjukkan begitu lemahnya kinerja Pertamina.
Kenapa? Suruh orang pindah, dari minyak tanah diganti dengan pakai elpiji.
Giliran orang sudah mau pindah, eh, elpiji 3 kg nya sulit didapat di
pasaran. Terjadilah kelangkaan elpiji tabung 3 kg. Banyak orang kelabakan.
Kompor minyak tanah sudah telanjur dijual, atau diloak. Waktu itu orang
Pertamina berdalih karena begitu banyaknya permintaan sehingga pasokan
tidak cukup! Alasan yang lagi-lagi menunjukkan kualitas kerjanya sendiri.
Bukankah seharusnya mereka sudah harus mengantisipasinya? Sudah berhitung,
sudah punya data-data, perhitungan, kalkulasi, dan sejenisnya untuk
menghadapi hasil dari proyek migrasi minyak tanah ke elpiji yang diadakan
sendiri itu? Mungkin sudah menjadi tadisi dan sekaligus kualitas kerja
aparat kita: Lemah dalam data, penggunaan data, dan pengantisipasiannya.
Budaya “Bagaimana nanti”, barangkali yang menjadi faktor
utamanya. Demikian pula dengan kasus kelangkaan listrik yang sempat heboh.
Itu semua berangkat dari lemahnya pemerintah dalam mengolah data untuk
melakukanlangkah-langkah antisipasi. Akibatnya fatal. Industri kesulitan
listrik. Padahal pemerintahlah yang berupaya selama bertahun-tahun
mengundang para investor untuk menanam modalnya di sini.. Baik dari dalam
maupun luar negeri. Giliran investasi cukup berhasil dicapai, eh,
listriknya kurang. Cerita lainnya dari PLN, yang akhir-akhir ini suka main
ancam pengusaha yang tidak mau menurut program hemat listriknya. Pengusaha
restoran dan mall/plasa sempat diancam PLN agar mau menggunakan genset
sendiri dua kali dalam seminggu (sekarang melunak dgn sekali dalam
seminggu). Tetapi PLN tidak mau tau dengan kesulitan pengusaha untuk
memperoleh solar sebagai bahan baker gensetnya. Karena Pertamina melarang
penjualan solar di SPBU-SPBU kalau tidak untuk langsung kendaraan
bermotor. PLN juga tidak paham, baru ngeh, setelah bertemu dengan para
pengusaha mal/plasa dan restoran, karena sebagian ternyata belum punya
genset, dan untuk membeli genset baru bukan perkara mudah karena biayanya
(harganya) yang mahal. Kembali ke masalah kenaikan harga elpiji ukuran 12
kg dan 50 kg. Yang paling terasa sudah pasti untuk ukuran 12 kg. Ukuran
ini paling banyak dipakai. Baik di rumah tangga, maupun di usaha makanan
kelas menengah ke bawah. Dengan kenaikan tersebut yang tidak akan berhenti
sampai di sini saja, maka industri makanan kelas menengah ke bawah sudah
pasti akan terpukul-pukul. Hampir pasti akan banyak yang berhasil di-K.O.
Pertamina. Usaha sudah sepi, biaya malah bertambah-tambah. Mau menaikkan
harga makanan? Nanti bisa-bisa di-good bye konsumen. Terus bagaimana kiat
pengusaha makanan mengah/kecil ini? Sudah hampir pasti mereka akan
rame-rame memburu ukuran 3 kg yang sudah langka akan menjadi semakin
langka. Asal tau saja, menurut Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan
Minuman (Gapmmi) Franky Sibarani, dari sekitar 1 juta pengusaha yang
bernaung di bawh Gapmmi, hanya 0,5% yang masuk kategori besar. Sisanya
99,5% adalahpengusaha menengah ke bawah. (Kontan, 25/08/08). Maka jangan
heran, kalau nanti elpiji tabung 3 kg yang seharusnya hanya untuk rumah
tangga kurang mampu akan menjadi serbuan para pengusaha makanan tersebut.
Apalagi disparitas (selisih harga) antara tabung 15 kg dengan 3 kg itu
akan semakin jauh, dengan adanya kenaikan setiap bulan dari Pertamina
sampai mencapai harga hampir dua kali lipat dari sekarang (Rp. 11.400/kg
atau Rp. 136.800/tabung). . Akibatnya stok ukuran 3 kg itu akan menjadi
semakin langka. Sehingga membuat susah rumah tangga keluarga kurang mampu
itu. Bahkan bukan tidak mungkin ukuran 3 kg itu malah diperdagangkan oleh
para keluarga rumah tangga tidak mampu itu. Akibatnya harganya pun bisa
ikut melonjak. Maka, berantakanlah program pemerintah dengan elpiji untuk
rumahtangga kurang mampu itu. Tapi juru bicara Pertamina Wisnuntoro
mengatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi. Karena selama ini
elpiji 3 kg itu hanya diperuntukkan dan dipakai oleh masyarakat miskin.
Jadi, mereka (pengusaha makanan 15 kg) mau beli/borong dari mana? Dari
mana? Apakah yang tidak mungkin terjadi di negeri ini? Apakah yang tidak
bisa dipermainkan di negeri yang duit adalah segala-galanya ini? Baru hari
pertama saja mulai terjadi lonjakan pembelian tabung 3 kg. Wisnuntoro
mengatakan bahwa kelangkaan tidak mungkin terjadi karena saat ini
Pertamina sudah menyediakan tabung elpiji 3 kg sebanyak 11,7 juta unit.
Sedangkan ukuran 12 kg dan 50 kg sebanyak 29 juta unit. “Tiap tahun
jumlahnya akan bertambah. Jadi untuk masalah stok tabung bukan
masalah,” katanya. (Kontan, 26/08/08) Sebaliknya, Ketua Asosiasi
Industri Tabung Gas (Asitab) Tjiptadi memperkirakan memang akan terjadi
peralihan pengguna tabung gas elpiji dari 15 kg ke 3 kg, dan ini akan
menjadi masalah. Lantaran pasokan tabung elpiji 3 kg ke Pertamina seret
karena Pertamina belum membayar produsen pembuat tabung gas. Untuk hal
tersebut asosiasi akan bertemu dengan Wapre untuk berbicara tentanghal
tersebut. Anda percaya yang mana? Lain bicara juru bicara, lain bicara
Direktur Pemasaran Pertamina Achmad Faisal. Direktur Pemasaran itu
mengatakan bahwa Pertamina menyadari kemungkinan terjadinya peralihan
tersebut. Oleh karena itu akan memantau terus distribusi gas elpiji 3 kg
selama sepekan ini. Apabila dalam seminggu itu banyak masyarakat yang
beralih ke elpiji 3 kg Pertamina akan mengambil langkah khusus, di
antaranya pemberian sanksi. Maksudnya tentu adalah pemberian sanksi
terhadap distributor/agen Pertamina yang menjual tabung 3 kg itu kepada
masyarakat bukan dari kalangan ekonomi lemah. Apakahlangkahtersebut akan
efektif? Saya sangat meragukannya. Mekanisme apa yang akan dilakukan
Pertamina dalam pengawasan tersebut? Sampai hari ini kita tidak melihat
wujud dari langkah pengawasan tersebut. Pun kalau ada, apakah apakah
efektif dan bisa mencegah penyimpangan-penyimpnagan di lapangan? Saya
lebih percaya kalau pernyataan tentang pengawasan itu hanya omong doing.
Dalam prakteknya, tidak ada. Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa
semuanya itu hanya berakhir di pernyataan saja. Prakteknya akan berbeda
jauh. Sekarang, mari kita lihat dulu bagaimana perkembangannya.

written by : daniel_ht

—————

Ini rupanya biang keroknya yang membuat pemerintah melepas harga
elpiji ke pasar alias menaikan harga…______________________

____

Shell Ingin Jualan Elpiji 12
Kg

Alih Istik Wahyuni –
detikFinance

http://www.detikfinance.com/read/2008/08/26/142213/994862/4/shell-ingin-jualan-elpiji-12-kg

Jakarta – Raksasa minyak asal
Belanda, Shell berniat masuk ke bisnis elpiji di Indonesia
begitu Pertamina melepas subsidinya di elpiji 12 kg.

Bahkan jika berkembang, perusahaan migas ini juga akan
membangun infrastruktur pendukung seperti SPBE (Stasiun Pengisian Bahan Bakar
Elpiji) dan depo.

Demikian disampaikan Dirut Shell Indonesia Darwin
Silalahi saat mengisi Bimasena Business Forum di Hotel Dharmawangsa,
Jakarta, Selasa (26/8/2008).

“Kami tertarik di sektor elpiji. Tapi kerangka regulasi
di sektor ini perlu di-stabilize, sehingga mungkin bagi kami untuk masuk dan
mendapat marjin yang layak di setiap mata rantai bisnisnya,”
katanya.

VP External Relations Shell Indonesia Wally Saleh
menjelaskan, Shell tidak mungkin masuk ke bisnis ini dengan kondisi seperti
sekarang dimana Pertamina masih mensubsidi elpiji 12
kg.

“Kalau Pertamina masih subsidi 12 kg, kami nggak bisa
masuk dong. Makanya kita tunggu sampai ada regulasinya dulu,”
katanya.

Menanggapi ini, Dirut Pertamina Ari Soemarno mengaku
senang jika ada pemain lain yang masuk ke bisnis
elpiji.

“Kalau ada pemain lain yang masuk, Pertamina adalah
pihak yang paling senang. Karena suplai di masyarakat pasti terjamin,”
katanya.

Namun ia mengaku tidak bisa melepas subsidi elpijinya
dalam waktu dekat, karena itu berarti harus menaikkan harga jual
elpiji.

“Sekarang kita naikkan Rp 500 saja sudah heboh, apalagi
kalau langsung dilepas,” katanya.

Selain itu, Shell juga mengaku tertarik untuk masuk ke
sisi hulu migas Indonesia terutama untuk mengembangkan
energi unconventional dan yang lokasinya frontier. Menurutnya, Shell akan
membawa teknologi-teknologi yang sudah dikuasainya selama
ini.

“Tapi barangkali dengan kami membawa teknologi yang maju
ini kami bisa dapat premium terutama si signature bonus,”
ujarnya.

Saat ini Shell mengoperasikan 21 SPBU yang hanya menjual
BBM non subsidi. Dengan SPBU yang hanya segitu, menurutnya tidak ekonomis bagi
Shell jika harus membangun sampai
penimbunan.(lih/ddn)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: