Tentang Opini Masyarakat

Mei 30, 2008

BBM akan naik Lagi? Ya, Sampai Sama Dengan Harga Pasar (lihat: LOI dengan IMF)

Filed under: Uncategorized — myself @ 12:55 am

Revrisond Baswir: Kenaikan BBM Cuma Alasan untuk Ciptakan Liberalisasi
Sektor Migas

Selasa, 27 Mei 08 16:17 WIB

Kenaikan harga BBM sebenarnya merupakan satu bagian kecil dari upaya
liberalisasi sektor migas di negeri ini. Nantinya, Pertamina, perusahaan
miyak yang selama ini menjadi pengelola tunggal itu akan bersaing dengan
lebih dari 40 perusahaan migas asing yang sudah mengantongi izin untuk
membuka 20.000 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh
Indonesia, dengan harga standar internasional.

Berikut ini perbincangan dengan Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan
Universitas Gadjah Mada Drs. Revrisond Baswir, M.B.A, yang ditemui dalam
Seminar Peringatan Hari Lahir Pancasila, di Gedung DPR, Jakarta. Berikut
petikannya:

Kenaikan BBM ini kedepannya akan berdampak seperti apa?

Untuk mengetahui dampak kenaikan harga BBM, kita harus tahu persis latar
belakang dan motivasi. Kalau menurut pemerintah, latar belakangnya apakah
untuk mengoreksi yang tidak tepat sasaran, untuk menghemat konsumsi BBM,
termasuk untuk menghindari penyelundupan dan sebagainya. Saya kira itu
alasan yang dicari-cari, bukan penjelasan namun justru mengaburkan dari
motif sebenarnya. Alasan yang sebenarnya adalah sejak pemerintah
menandatanganani LOI 1998 di mana kita tunduk pada IMF untuk melepas harga
BBM ke harga internasional. Ini sebenarnya bukan soal kenaikan, tapi soal
proses bertahap melepas harga BBM ke harga pasar sesuai garis IMF, dan itu
sudah difollow up oleh pemerintah yang sejak 1999 sudah membuat draft UU
Migas yang baru, tapi pada waktu itu bentrok dengan Pertamina.

Lalu pada tahun 2000, Amerika masuk lewat USAID menyediakan utang untuk
memulai proses liberalisasi sektor migas itu. Salah satu yang dikerjakan
USAID dalam rangka liberalisasi itu adalah menyiapkan draft UU yang baru,
bekerjasama dengan IDB dan World Bank menyiapkan reformasi sektor energi
secara keseluruhan. Dalam UU Migas jelas, pasal 28 ayat 2 UU migas
mengatakan harga BBM dilepas ke mekanisme pasar, sudah jelas itu.

Yang jadi masalah kemudian, segera setelah UU Migas keluar, pemerintah
segera membuka izin bagi perusahaan-perusahaan asing untuk masuk ke berbagai
tahap dalam proses migas di tanah air, mulai dari hulu sampai ke hilir. Dan
bahkan mereka mengendalikan izin untuk perusahaan asing untuk membuka SPBU,
sampai lebih dari 40 perusahaan yang sudah pegang izin untuk membuka SPBU
itu. Masing-masing perusahaan diberi kesempatan membuka sekitar 20.000 SPBU
di seluruh Indonesia. Target mereka sebenarnya pada 2005 harga BBM sudah
bisa dilepas ke pasar, hanya saja di tengah jalan UU migas dibawa ke
Mahmakah Konstitusi (MK) oleh serikat pekerja pertamina, disidangkan di MK.
Dan pasal 28 tentang pelepasan harga ke pasar itu dibatalkan MK, karena
bertentangan dengan konstitusi. Itu sebenarnya yang menggganjal.

Masalahnya mereka kan tidak mau menyerah, setelah dinyatakan UU itu
bertentangan dengan konstitusi, mereka jalan terus dengan istilah baru, dari
istilah harga pasar menjadi “harga keekonomian”, itu hanya untuk berkelit
saja. Karena harga pasar dilarang MK, maka ganti yang lain, tetapi maksudnya
sama.

Isu yang tepat dalam kasus ini adalah liberalisasi sektor migas dan
pelepasan harga BBM ke harga pasar. Jadi kalau kita lihat, setelah rencana
itu gagal tahun 2005, dan muncul istilah harga keekonomian. Maka kini target
pemerintah sesuai dengan apa yang diakatakan oleh Pak Budiono (Menko
Perekonomian, dulu), setelah naik pada 24 Mei kemarin, diperkirakan pada
September 2008 akan naik lagi secara bertahap, sampai ditargetkan
selambat-lambatnya 2009 sudah sesuai dengan harga pasar minyak dunia. Sama
dengan patokan di New York, kalau dieceran mencapai Rp 12.000 per liter.

Keuntungan apa yang akan diambil dari kebijakan melepas harga BBM ke pasar?

Bukan itu isunya. Isunya hanya dengan melepas harga BBM ke pasar, hanya
dengan cara itu SPBU-SPBU asing itu mau beroperasi di sini. Kalau harga
bersubsidi bagaimana SPBU asing bisa beroperasi dan bersaing dengan
Pertamina, ini masalahnya. Masalahnya soal menangkap peluang investasi. Ada
perusahaan asing ingin membuka SPBU asing, berarti SPBU asing ini mau
melakukan investasi, tetapi SPBU asing hanya bisa jualan BBM, kalau BBM-nya
sesuai dengan harga pasar. Jadi masalah ini saja, soal pasar. Pengakhiran
monopoli Pertamina, pembukaan peluang bagi asing untuk berbisnis eceran BBM,
dan seterusnya.

Seperti sekarang ini Petronas dan Shell sudah membuka SPBU-nya?

Makanya akibat kenaikan BBM tahun 2005, Shell buka, Petronas juga buka. Tapi
apakah masuk akal kalau orang membuka SPBU itu hanya Jabotabek saja, gak
mungkinkan, izin yang mereka peroleh, mereka boleh buka 20.000 SPBU di
seluruh Indonesia, nah ada 40 perusahaan lebih yang punya izin. Bisa
dibayangkan, berapa banyak SPBU yang akan berdiri, dan bukan hanya
Jabodetabek, tapi juga seluruh Indonesia.

Pertamina sendirisudah memperkirakan hanya akan mampu menjual maksimal 50
persen saja, 50 persennya akan diambil oleh SPBU-SPBU asing itu. Nah kalau
2009 dilepas ke pasar, rencana terakhir pemerintah adalah bahwa sektor
swasta bisa masuk ke bisnis eceran migas dilakukan secara penuh baru pada
tahun 2010. Jadi bukan masalah BBM naik, kemiskinan, BLT, bukan isu itu,
tapi mereka menganggap ini hanya dampak saja. Lalu kemudian bagaimana dampak
itu diperlunak. Tetap saja mereka akan jalan terus dengan agendanya,
bagaimana membuat sektor migas hingga terpenuhi sesuai harga pasar.

Saya kira isu lifting tidak relevan, karena ini isunya bukan naiknya berapa
persen, bukan itu. Isunya adalah soal melepas harga itu, jadi pemerintah
ingin lepas tangan dari urusan harga BBM. Dia gak mau mengatur mau naik, mau
gak naik, dia mau lepaskan, jadi isu lifting menjadi tidak penting. Apalagi
kalau SPBU beroperasi di sini, gak penting lagi, sumber migasnya darimana,
mau impor 100 persen, ya boleh. Itu dia, justru itu malah mengaburkan
masalah dari pokok masalah kita.

Masalah ini sekarang sudah mulai masuk ke ranah politik, ada wacana
mengimpeach Presiden. Bagaimana ini?

Soal pemakzulan Presiden, kalau kita bicara UU migas, kemudian UU
Kelistrikan, kemudian UU APBN, yang terkait dengan subsidi dan lain-lain itu
kan atas persetujuan DPR, jadi proses liberalisasi ini juga berlangsung atas
persetujuan DPR. Kalau akan dimakzulkan bukan saja Presiden, tapi juga
DPR-nya juga dimakzulkan.

Dan itu terbukti di MK, jadi yang melanggar konstitusi bukan hanya
pemerintah, tapi juga DPR. Inilah yang menjadi problem sekarang, jadi secara
politik masalah ini sangat kompleks, karena belum ada aturan, bagaimana
apabila pelanggaran konstitusi dilakukan Presiden dan DPR. Nah ini tidak ada
UU-nya, saya sudah menanyakan hal ini kepada hakim agung, celakanya
pelanggaran konstitusi ini tidak hanya sekali. UU Listrik batal demi hukum,
karena melanggar konstitusi, UU Migas pasal mengenai harga pasar batal
karena melanggar konstitusi, UU Penanaman Modal pasal mengenai Hak Guna
Usaha karena melanggar konstitusi, UU APBN tiga tahun berturut-turut
melanggar konstitusi, ini masalah kita.

Akar permasalah dari kebijakan melepas BBM ke harga pasar?

Masalahnya adalah apa yang disebut dengan Neokolonialisme dan
Neoliberalisme.

Solusinya bagaimana?

Solusinya, kita harus memperteguh kembali komitmen sebagai bangsa terhadap
cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi, ini harus ditegakan kembali.
Setelah ini baru mengoreksi semua penyimpangan-penyimpangan, apakah itu
kebijakan, peraturan pemerintah, UU, semua itu harus ditertibkan kembali.
Karena menurut perkiraan Ketua Mahmakah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, 27
persen UU melanggar konstitusi, harus dibereskan dulu. Dari situ baru kita
lihat dampak turunannya apakah kepada kontrak bagi hasil, harga BBM, harga
listrik, dan lain-lain. (novel)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: