Tentang Opini Masyarakat

Mei 28, 2008

Demo dan SBY

Filed under: Uncategorized — myself @ 8:16 am

Dari MediaKonsumen: http://www.mediakonsumen.com/Artikel2379.html

DEMO MENGGILA,SBY MASA BODOH

BBM sudah dinaikkan pada 24 Mei 2008 oleh pemerintahan SBY. Apa
boleh buat. Meski “ocehan” pemerintah tentang menyelamatkan APBN
cukup membingungkan, namun rakyat terpaksa menerimanya. Namun
sayang, apa yang ditunggu rakyat dari Pemerintah SBY tak kunjung
muncul. Apa yang ditunggu rakyat?

Sejak beberapa hari terakhir ini di beberapa stasiun TV (mungkin
semua?) menayangkan sebuah program komunikasi yang dibuat oleh “Save
Our Nation” mengenai “mengapa harga BBM dinaikan”. Kampanye itu
dibuka dengan munculnya Sri Mulyani, sang menteri keuangan negeri
ini. Untuk kapasitasnya sebagai seorang akademisi dan menteri dari
sebuah negeri morat-marit, sungguh Sri Mulyani ini amat
mengecewakan, karena mau menjadi bagian dari sebuah program
komunikasi dari pemerintah SBY yang terlambat dan nampak ragu-ragu
arahnya, sehingga hasilnya hanya menambah luka rakyat. Mengapa
begitu?

Sri Mulyani, Marie Pangestu, Andi Malarangeng, Aburizal Bakrie dalam
program komunikasi itu mengatakan hal-hal yang lebih tepat
digolongkan atau diklasifikasikan sebagai “curhat”. Bukan sebuah
wejangan seorang pemimpin kepada rakyatnya yang sedang gundah,
panik, bingung, putus harapan, dan merasa dianiaya. Rakyat tentu
berharap wejangan seorang pemimpin akan kira-kira seperti
ini: “Tunggu dalam waktu yang tidak lama lagi, kami akan segera
mengeluarkan pengumuman mengenai rincian program-program kami untuk
membantu rakyat agar rakyat bisa melalui dengan selamat kebijakan
pahit yang telah kami putuskan.” Tapi apa yang diberikan dalam
program komunikasi itu? Hanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang
menonjol, selebihnya hanya kalimat-kalimat normatif. Kosong. Tak ada
janji yang pasti untuk membantu rakyat.

Apakah negeri ini harus menaikkan harga BBM? Itu memang debatable.
Apakah kenaikan harga BBM menimbulkan dampak? Itu pasti. Namun
demikian, ternyata cuma BLT yang bisa dimuntahkan pemerintahan SBY
setelah 4 tahun diberi kesempatan mengelola negeri ini. Padahal
kenaikan harga BBM sudah diprediksi jauh-jauh hari sebelumnya,
sehingga seharusnya sudah ada strategi jitu untuk meredam gonjang-
ganjingnya dengan misalnya memberdayakan rakyat, bukan dengan hanya
BLT. Apalagi dalam beberapa hari terakhir ini sudah muncul dampak
buruk dari BLT sebagaimana terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
Ternyata meski kenaikkan BBM sudah diprediksi sebelumnya, ternyata
pemerintah SBY masih juga tidak siap dengan pelaksanaan BLT.

Sebenarnya program komunikasi ini adalah kesempatan bagus untuk
menunjukkan, bahwa pemerintah SBY sungguh-sungguh membela rakyat,
bukan cuma tunduk kepada kepentingan asing, menambah hutang dan
menjual ratusan trilyun rupiah harta kekayaan negeri ini serta tidak
mampu mengejar ratusan trilyunan rupiah yang dibawa kabur
konglomerat hitam.

Sri Mulyani dan yang lain-lain di dalam program komunikasi itu,
meski bergelar Doctor sebagaimana orang-orang di sekitar SBY, memang
hanya seorang menteri keuangan yang mungkin hanya mampu memenuhi
selera ringan SBY dalam memasak resep pengelolaan negeri ini. Malah
kebijakan menaikkan BBM telah membuat menteri-menteri lainnya
menyeringai lebar karena seolah-olah mereka tidak ada hubungannya
dengan kenaikkan BBM ini. Lihat misalnya menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral yang membuat minyak Indonesia menguap entah kemana..
Juga menteri pekerjaan umum yang tidak pernah mampu menyediakan
infrastruktur jalan yang baik. Atau menteri perhubungan yang malah
menyuburkan pungli di jalan-jalan.

Mereka memang bukan ratu adil seperti yang ditulis oleh Joyoboyo
yang akan membawa rakyat keluar dari kubangan sepanjang puluhan
tahun berdirinya republik ini. Bahkan nampaknya semangat kebangkitan
nasional yang pertama kali diikrarkan 100 tahun lalu masih terus
hanya menjadi omong-kosong belaka, meski republik telah dibangun di
negeri ini, meski Soeharto telah digulingkan, meski reformasi telah
digelar, meski 2 kali pemilu yang katanya “demokratis” telah
dilemparkan ke rakyat.

Rakyat menunggu janji yang lebih dari sekedar BLT, misalnya
menciptakan lapangan kerja yang lebih luas bukan hanya sekedar
mengundang investor dari luarnegeri untuk membangun pabrik. Tapi
juga menciptakan jenis-jenis pekerjaan baru atau peluang-peluang
usaha baru. Rakyat sendiri sudah sejak lama menciptakan peluang-
peluangnya sendiri, misalnya dengan menjadi pengusaha kaki lima.
Sayang upaya mandiri mereka ini dianggap sebagai pekerjaan kriminal.
Mereka dikejar, diburu, ditumpas sebagaimana musuh berbahaya bagi
negara. Jika mereka tidak boleh menjadi pengusaha kaki lima, tetapi
mengapa mereka tidak pernah diberi solusi untuk mendapat kesempatan
berusaha atau berpenghasilan?

Sekali lagi program komunikasi ini terlambat. Seharusnya itu dibuat
sejak gonjang-ganjing kenaikan BBM pertama kali dilemparkan beberapa
minggu lalu. Kini demo-demo anti kenaikan BBM sudah menjadi
menggila, amat emosional, kehilangan akal sehat dan menyedihkan di
mana-mana
(http://foto.detik.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/2
6/time/172004/idnews/945352

/idkanal/157/id/6). Para aparat keamanan
yang juga terkena dampak dari kenaikan BBM ini harus dijadikan garda
rapuh yang menyedihkan oleh pemerintahan SBY. Padahal para aparat
keamanan ini juga memiliki anak, adik, keponakan, saudara, tetangga,
teman yang menjadi mahasiswa pendemo. Sungguh sebuah situasi
kebangsaan yang sebenarnya amat memilukan kita sebagai bangsa yang
terus-menerus harus berkubang (bukan menggeliat bangun atau bangkit)
di dalam soal-soal yang sialnya bukan soal-soal yang digdaya atau
soal-soal yang bermartabat, seperti bagaimana ikut menyelamatkan
planet Bumi ini bagi anak cucu di masa depan. Bukan soal-soal
menciptakan perdamaian. Bukan soal-soal membantu korban bencana.
Bukan juga soal-soal bagaimana menciptakan hidup yang lebih mulia
dengan teknologi, misalnya. Semua persoalan bau ketek ini sekali
lagi (atau lagi-lagi) dilemparkan oleh pemenang pemilu yang
diselenggarakan dengan biaya mahal dari keringat dan darah rakyat.

Bangsa ini atau negeri ini menjadi rusak bukan karena bangsa ini
bangsa yang disebut indon sebagaimana disebut beberapa orang
Malaysia untuk merendahkan kita. Juga bukan karena kita memang
bangsa kere atau bangsa budak, tetapi karena kita secara sial telah
memilih manusia-manusia tempe (karena kedelainya diimport dari Cina
atau Amerika). Kita telah memilih para pemimpin amoral karena mereka
tidak mau bekerja keras sampai titik darah penghabisan untuk
mengelola negeri ini.

Jojo Rahardjo
Dari MediaKonsumen: http://www.mediakonsumen.com/Artikel2379.html

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: