Tentang Opini Masyarakat

Mei 20, 2008

Mekanisme Upeti – Related to Exxon

Filed under: Uncategorized — myself @ 3:24 am

….kisahnya begini: Pertamina memberi hak ke PT.
Humpus (punya anak Suharto Hutama Mandala Putera
Suharto) waktu itu masih ada Pak Ginandjar
Kartasasmita untuk mengelola daerah Explorasi Cepu.
Kemudian mengerahkan akhli termasuk Prof. DR.
Kusumadinata untuk meneliti kandungan minyak/Gas
dengan seismic prospecting dan pengetahuan-pengetahuan
yang dipunyainya dan berkesimpulan sangat potential.
Hal ini memang sengaja diadakan penelitian terhadap
daerah ex Minyak yang ditinggalkan karena belum adanya
teknologi lanjut dalam pengindraan potensi-potensi
yang mungkin masih ada pada daerah ex minyak yang akan
ditinggalkan atau yang sudah ditinggalkan. Ternyata
menurut pengindraan memang daerah Cepu sangat
menjanjikan, sehingga pihak Humpus berusaha minta
kredit ke Bank Nasional tetapi tak mendapatkan
fasilitas tersebut. Kemudian Humpus menjual ke EXXON
dengan harga 50 juta US $, lalu terjadilah yang
sekarang ini. Seharusnya kita harus berani
mengeksplorasi dengan modal sendiri. OBLIGASI KERTAS
BERHARGA mengapa BLBI bisa mengucurkan sampai 600
trilyun Rupiah kepada Conglomerate palsu/penipu, a
soisial, a nasional yang cari keuntungan dari
kebodohan pemimpin Bank milik BUMN Hakim Jaksa yang
mengharapkan upeti dari Preman-Preman Conglomerate non
asli Indonesia. Dari conglomerate memang mendapat uang
angus sekian persen (2% saja sudah besar, sudah bisa
ber-istri baru yang aduhai) belum beli rumah naik haji
berapa kali, keluar negeri di hotel-hotel mewah. 

Sebetulnya explorasi minyak sendiri bisa dikontrakkan
ke akhlinya tak usah Pribumi dengan biaya yang
biasa-biasa saja 2 minggu selesai mengebor 3000 meter
dan keluar minyak atau gas milik Indonesia asli,
hasilnya bisa 300.000 barel per hari dan dapat kita
pakai di pabrik pengolahan minyak Dumai, Balikpapan,
Cilacap, Balongan, Plaju, Lhokseumawe, Bontang dan
lain-lain untuk menghasilkan bahan yang sudah
direfined misalnya LPG, LNG Minyak Tanah, Bensin,
Olefin, Lube Oil, Aromatic, Polypropylene, Polymer,
kemudian Plastic, Serat, Pralon, Rayon dan lain-lain.

Tahukan yang membuat feasibility study bagi
Conglomerate adalah China-China akhli kimia atau
Teknik Industri yang disekolahkan Pemerintah ke
Amerika atau Europe dan di marked up, lebihnya
mendirikan Industri di Indonesia dipakai modal untuk
membuat Industri di luar negeri a.l. di Singapura,
Hongkong, China-Mainland. Yang membacked up ya
Suharto, Habibie dan kawan-kawan dan yang menamakan
pemimpin yang pandai mengutarakan rencana tanpa
kontrol, lalu dapat istri baru, rumah baru dan
berfoya-foya ke luar negeri termasuk naik haji untuk
tujuh turunan dan merasa masuk sorga kata ulama-ulama.
Kalau pemimpin kita masih bermental mengharapkan
komisi/upeti seperti ini ya mau dibawa kemana kita. 

Lain halnya kalau komisi/upeti distor sebagai modal
berusaha milik Negara. Barang procurement saja
dialihkan ke gudang-gudang China , kemudian kalau
pabrik membutuhkan beli dari China tadi ya tak
heranlah Jendral-Jendral dan pemimpin punya Ranch
Kuda, Hotel, Real Estate dan yang mewah lain padahal
makannya sesuap nasi, bersuap-suap nasi akhirnya sakit
lalu mati kekayaan terbengkalai, pewarisnya tak becus.

Hotel Borobudur yang tadinya milik Direktorat Keuangan
dijual ke Artha Graha oleh Silalahi ex Sek Jen
Keuangan, berapa yang masuk kesaku pejabat.

Sumber : No Name

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: