Tentang Opini Masyarakat

November 18, 2008

Kilas Balik Fakta Bom Bali I

Filed under: Uncategorized — myself @ 9:01 am

Hakim yang memvonis mati Amrozi Cs telah mati duluan. Jaksa yang menuntut (Urip Tri Gunawan)  kini dipermalukan kasus suap Rp 6 M. Siapa yang akan menyusul terhina berikutnya?

 

Oleh: Fauzan Al-Anshari *

http://www.hidayatullah.com/images/stories/opini.jpgTiga terpidana mati Amrozi Cs telah dipanggil Allah SWT. Tapi masih banyak orang belum mencermati secara jeli peristiwa itu. Tulisan berupa kilas balik ini sekedar mengingatkan Anda semua atas peristiwa itu.

***

Pulau Bali mempunyai nama lain sebagai pulau Dewata, karena memang dikaruniai oleh Alloh SWT memiliki keindahan panorama alam, khususnya panorama di pantai Kuta. Karena keindahannya, tidak mengherankan jika para wisatawan selalu berdatangan silih berganti, baik wisatawan lokal (domestik) maupun turis asing. Karena banyaknya wisatawan asing, sampai-sampai ada tempat hiburan yang dikhususkan untuk para turis asing, yaitu Paddy’s Bar dan Sari Club.

Pada hari sabtu tanggal 12 Oktober 2002 menjelang tengah malam tiba-tiba sebuah bom meledak di Paddy’s Bar tempat para turis asing berpesta pora.

>> Bom Bali 1 [thejakartapost.com]

Seketika itu juga aliran listrik padam, sehingga sepanjang jalan Legian Kuta gelap gulita. Dalam hitungan detik sesaat kemudian muncul cahaya terang yang memancar membentuk awan, semburan api raksasa terlihat hampir bersamaan dengan terdengarnya ledakan dahsyat. Disusul dengan bom kedua di Sari Club, yang efeknya terdengar sampai radius puluhan kilometer, dan jaring-jaring bangunan berhamburan ke udara sampai 50 meter tingginya.

Indonesia tersentak, tak menyangka akan terjadi targedi Bom Bali I tersebut, sementara pemerintah Amerika – Israel – Australia dan pemerintah barat lainnya tidak kaget atau pura-pura kaget atas kejadian yang mengakibatkan sebagian warganya jadi korban. Sangat disayangkan, pemerintah Indonesia tidak segera mengambil sikap, tidak seperti pemerintah Amerika yang cepat membuat pernyataan “Amerika under Attack” (Amerika sedang diserang) yang langsung diikuti penutupan akses keluar dari Amerika, baik yang lewat udara maupun laut.

Sementara pemerintah Indonesia bingung, tidak tahu apa yang harus dan cepat dilakukan untuk melindungi rakyatnya. Pintu ke luar masuk, baik jalur udara maupun laut dibiarkan terbuka lebar, sehingga kalau ada dugaan keterlibatan pihak asing, maka barang-barang bukti akan lenyap dibawa lari ke luar negeri. Yang tersisa hanya bukti lokal, yang menyebabkan rakyatnya sendiri jadi korban tuduhan.

Bom jenis apa yang meledak di kedua tempat hiburan Paddy’s Bardan Sari Club? Siapa yang pantas tertuduh sebagai pelaku utamanya? Para pembaca dipersilahkan untuk mengambil kesimpulan sendiri setelah membaca berita dan cara penanganannya. Setelah bom meledak, dalam tempo 5 mikro-detik detonasi yang sangat dahsyat berupa gelombang tekan (shock wave) berkekuatan satu juta kaki perdetik membongkar jalan yang berada di depan Sari Club. Aspal, batu dan tanah dengan berat dua ton-an terlempar berhamburan ke udara, sementara tanah dan pasir berputar ke segala arah bak angin putting beliung, mampu memotong tubuh para turis menjadi seperti mie kwetiau. Potongan-potongan tubuh manusia terserak sampai beberapa blok jauhnya, sedang yang berada pada radius demosili yang panjangnya 200-an meter akan tewas meski dengan tubuh utuh, tapi tulang belulangnya patah dan remuk redam bak bandeng presto.

Ledakan bom tersebut menewaskan 202 orang, melukai sekitar 300 orang, menghancurkan 47 bangunan, beberapa mobil terlempar ke udara sampai enam meter dan membakar ratusan mobil dari berbagai merk dan jenis. Potongan-potongan besi bangunan juga patah-patah dan bengkok oleh kuatnya tekanan ledak, kaca bangunan beterbangan ke segala arah, getaran akibat ledakan bom bisa dirasakan sampai radius 12 kilometer. Belum juga pihak kepolisian Indonesia selesai mengadakan penyelidikan, tiba-tiba keluarlah beberapa pernyataan dan tuduhan dari pihak pemerintahan Barat. Presiden AS George Walker Bush sudah mendahului menuduh Al-Qaidah sebagai dalangnya, yang akan diamini oleh negara-negara barat yang lainnya. Sementara, Lembaga Studi Pentagon dan Israel menuduh Jamaah Islamiyah yang melakukannya.

Dengan munculnya beberapa pernyataan dari negara-negara kuat yang mendahului hasil penyelidikan pihak kepolisian, sudah barang tentu sangat mempengaruhi independensi dan obyektifitas proses penyelidikan kepolisian Indonesia. Cecaran negara-negara barat tersebut jelas membuat kepolisian Indonesia ketar–ketir dan ketakutan, karena merasa mendapat intervensi. Walau masih tetap melakukan proses penyidikan dan penyelidikan, tapi sudah tidak bisa mandiri lagi.

Perhatikan dari perkembangan pernyataan-pernyataan yang disampaikan pihak yang berkompenten:

Pertama, Pada hari awal pasca ledakan Tim Mabes Polri mengadakan kajian bersama dengan Tim FBI, sudah berani membuat pernyataan: “Berdasarkan efek ledakan bom, besar kemungkinan material yang digunakan dari jenis C-4,” kata Kabag Humas Polri Irjen Polisi Saleh Saaf. Pernyataan tersebut diperkuat oleh keterangan Kepala BIN AM Hendropriyono, “Ya, salah satu dari bom yang dipakai adalah C-4,” disampaikan saat berkunjung ke TKP tanggal 19 Oktober 2002.

Kedua,  Mark Ribband seorang ahli dan praktisi eksplosif Inggris mengatakan kepada AFP (15/10/02): “Bom C-4 memang diproduksi oleh beberapa negara, tetapi produsen utamanya adalah AS dan Israel”. Dia menambahkan:  “Meskipun relatif gampang dibawa dan mudah diselundupkan, bom plastik ini tak bisa diperoleh sembarangan pihak, selain amat sulit juga mahal”. Melihat dampaknya, dia percaya bom di Bali itu punya daya ledak yang luar biasa, kalau benar itu C-4, tentu itu C-4 yang amat powerfull.

Ketiga, Joe Vialls, ahli bom dan investigator independen yang bermukim di Australia punya pendapat yang berbeda. Menurut hasil investigasi dan analisanya, bom yang meledak di Bali itu lebih dari C-4. Menurutnya, C-4 itu hanya hebat di film-film Hollywood yang dibintangi Sylvester Stallone atau Bruce Willis. C-4 itu sebenarnya hanya lebih baik dari TNT. C-4 yang standar terbuat dari 91% RDX dan 9% Polyisobotciser dan daya ledaknya 1,2 kali lebih baik dari TNT. Yang pasti kata Joe Vialls: “Skenario bom C-4 tak bisa menjelaskan mengapa bom Bali menimbulkan cendawan panas dan kawah yang cukup besar.

Adanya cahaya dan cendawan panas setelah lumpuhnya aliran listrik serta munculnya kawah, bisa menjadi indikasi yang spesifik dari hadirnya senjata micronuclear. Sejumlah kalangan mempertanyakan tidak adanya radiasi sinar gamma dalam kasus tersebut. Karena radiasi gamma dan neutron tidak terdeteksi, mereka menyimpulkan tak mungkin ada mikronuklir di Bali. Sanggahan itu sekilas masuk akal, tapi sebenarnya menunjukkan kurangnya wawasan akan khasanah senjata nuklir”.

Keempat,  Nuklir konvensional memang selalu menghasilkan radiasi radio aktif, sementara yang dipakai di Bali adalah mikronuklir non konvensional yang disebut SDAM (Special Demolition Atomic Munition). Dilengkapi reflector neutron, mikronuklir ini didesain sedemikian rupa hingga tidak sampai menghasilkan sinar gamma dan neutron yang gampang disidik oleh alat Geiger Counter, limbah yang dihasilkan SDAM itu berupa awan panas dan sedikit sinar alpha. Maka jika mendeteksi radiasi mikronuklir SDAM dengan menggunakan alat itu jelas salah alamat, pasti tak akan terukur adanya radiasi gamma dan neutron, kecuali memang di TKP terdapat bahan radioaktif Uranium.

Sedangkan bahan yang dipakai untuk membuat SDAM umumnya adalah Uranium 238 dan Plutonium 239. SDAM tidak meninggalkan jejak radiasi neutron dan atau sinar gamma, hanya menghasilkan panas dan sedikit pertikel alpha. Partikel itu tersedia dalam jumlah amat sedikit, sekitar satu partikel dalam radius dua meter. Itu pun bisa hilang atau tidak terdeteksi setelah TKP kena hujan, atau partikel terhirup oleh para korban yang telah dievakuasi dan diabukan di Australia. Persoalannya, para petugas kepolisian sudah kehilangan momen dan kesempatan untuk menjejak partikel alpha yang menjadi ciri khasnya.

Kelima,  Kepala Staf TNI Angkatan Bersenjata (KSAD) Jenderal Ryamizard Riyacudu (kini sudah pensiun) mengatakan: “Saya yakin bahwa bom yang meledak di Bali adalah buatan luar negeri, dan bukan buatan orang Indonesia. Bom yang begitu dahsyat seperti itu tidak mungkin produk dalam negeri, itu pasti produk luar negeri”, ujarnya usai memberikan pengarahan kepada prajurit Kopassus Grup 2 dan Brigif 413 Kostrad di Markas Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan Solo (12/11/02). Menurut Ryamizard, “Indonesia sampai saat ini belum mampu membuat bom Atom, bom Napalm, Mikronuklir atau sejenisnya. Tapi kalau ada orang kita yang disuruh saya tidak tahu, serahkan saja pada polisi. Tapi saya yakin ada orang luar yang terlibat,” jelasnya.

Keenam, Kapten Rodney Cox, seorang tentara Australia mengomentari kejadian meledaknya bom Bali. Dia menyaksikan langsung dahsyatnya bom tersebut, karena berada di dekat TKP, katanya: “Saya pernah mengikuti kursus Demosili, tapi tak pernah menyaksikan efek ledakan yang begitu hebat”.

Kesaksiannya yang cukup detail itu mengundang analisis lebih jauh terhadap identitas bom Bali. “Pernyataan listrik mati sebelum adanya kilatan cahaya pra ledakan telah menjadi petunjuk kuat dan tak terbantahkan, bahwa masa kritis dari suatu senjata mikronuklir telah tercapai” kata Joe Vialls. Bom kecil di Paddy’s Bar hanya menimbulkan kerusakan lokal, 10 detik kemudian meledaklah bom ke-2 di Sari Club yang sangat dahsyat, menyebabkan seluruh aliran dan jaringan listrik di kota saat itu lumpuh total oleh pengaruh gelombang elektromagnetik SREMP (Source Region Electromagnetic Pulsa) yang dipancarkan mikronuklir pada titik kritisnya. Pulsa Elektromagnetik itu merambat melalui semua medium pada kecepatan cahaya (300.000 km/jam). Karena itu Kapten Cox menyatakan, bahwa listrik mati sebelum dia menyaksikan semburan api dan awan panas di atas permukaan jalan. Laporan yang disusun oleh Kapten Jonathan Garland, wartawan koran resmi Angkatan Bersenjata Australia itu rupanya telah membuat keki dan blingsatan pemerintah dan petinggi militer Australia. Mereka khawatir kesaksian itu akan menjadi blunder bagi Australia di masa depan, maka dengan memo seorang menteri, laporan dan kesaksian penting itu kemudian dihapus dari situs ARMY.

Polri Kurang Mandiri dan Tidak Konsisten Pada hari pertama pihak kepolisian Indonesia menduga kuat bahwa bom yang meledak di Bali dari jenis C-4, dugaan itu didasarkan pada efek ledakan yang dahsyat. Akan tetapi setelah kedatangan Tim Polisi Federal (Austalia Federal Police) Australia dan ASIO (Australia Secret Intelligent Organization) , pernyataannya jadi berubah-ubah. Katanya, bom yang meledak dari jenis RDX. Lalu berubah lagi, kata polisi dari jenis TNT. Bahkan Polda Jatim sempat keceplosan bicara, bahwa bom yang meledak di Bali itu mungkin bom karbit, hanya karena di sekitar TKP ditemukan bubuk potasium khlorat. Sungguh menggelikan.

Kalau saja Polri mampu mandiri dan tidak takut dengan tekanan dari pihak manapun, bekerja profesional, tidak terpengaruh (yang negatif) walau ada pihak luar ikut membantu menyelidiki, maka haqqul yakin kepolisian Indonesia akan mempunyai wibawa tinggi di mata dunia, dihormati dan dicintai rakyat karena mereka merasa terlindungi.

Mengapa TNI Dicurigai Terlibat?

Koran Singapura The Straits Times dan koran Australia The Sydney Morning Herald melansir berita, bahwa TNI mungkin terlibat dalam pengeboman di Bali. Berdalih pengakuan paling mutakhir dari Umar al-Faruq (mudah-mudahan syahid) di penjara Baghram Afganistan. Mereka menuduh Abubakar Ba’asyir telah membeli C-4 dari TNI dengan dana kiriman uang dari tokoh Al-Qaidah Usama bin Ladin.

Berita fitnahan tersebut cepat direspon oleh KSAD Jenderal Ryamizard Riyacudu, dengan mengatakan bahwa TNI sampai saat ini belum mampu membuat bom Atom, bom Napalm, Mikronuklir dan atau yang sejenisnya. Lalu diadakanlah demo bom TNT (kemampuan yang dimiliki PT. Pindad) di Cibodas pada akhir Oktober 2002. 2 kg bom TNT disiapkan, 2 meter darinya diletakkan 2 botol aqua berisi bensin, di sampingnya lagi ada gubuk kecil dari bahan kayu. Setelah bom TNT tadi diledakkan, maka menimbulkan suara cukup keras dan tanahnya pun bergetar, pohon dan tanaman di sekitarnya rusak. Tapi anehnya 2 botol aqua yang berisi bensin tidak tumbang apalagi terbakar, begitu juga gubuk kayunya juga masih tegak berdiri. Uji coba tersebut dilakukan oleh Pusdik Zenit TNI AD yang dipimpin oleh Kol. C2i Puguh Santoso. Keterusterangan dari pihak TNI akan batas kemampuan PT. Pindad sebenarnya sangat disayangkan, karena rahasia batas kemampuannya akan diketahui pihak lawan. Tapi keterusterangan tadi bisa dimaklumi, apa sebabnya?

Nah kalau berita dari dua koran Singapura dan Australia itu di-blow up dan dilansir oleh mass media dunia, maka TNI dan juga negara Indonesia bisa terancam diserang oleh pihak luar, mungkin akan mengalami nasib seperti Iraq.

Coba perhatikan beberapa kejadian sebelumnya:

1.     Paska runtuhnya gedung WTC tanggal 11 September 2001, Presiden AS George Walker Bush menabuh genderang perang dunia melawan para pejuang dan aktivis muslim dengan julukan “teroris” (the global war on terrorism atau G-WOT). Dia mengajak kepada masyarakat internasional untuk mendukung langkahnya, dengan dua opsi: “Carrot or Stick”; bersama kami (AS) memerangi para teroris akan mendapat hadiah carrot/wortel/ dollar, tidak mau mendukung AS akan menerima pukulan stick/tongkat/ rudal.

2.     Presiden Megawati pernah mengatakan bahwa, jika AS menyerang Indonesia, maka tak akan mampu melawan tentara George Walker Bush dan tidak akan bertahan walau hanya sepekan. Mengapa Presiden Megawati sampai mengatakan demikian? Bisa jadi karena kemampuan militer Indonesia memang sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan tentara AS. Apakah George Walker Bush serius dengan ancamannya, bila Indonesia tidak mau mendukungnya akan diserang?

Jawabnya: Sangat mungkin! Tapi, dari dua pilihan tersebut,carrot-lah yang dipilih Megawati. Ia menyeret bangsa Indonesia menjadi sekutu Bush, menjadi “Proxy Forces” atau agen perantara untuk menangkapi rakyatnya sendiri . Masya Allohtega nian bunda.

Karenanya, ia langsung mendapatkan upah di depan (down paymen) sebesar US $ 500 juta. Katanya, untuk menstimulir perekonomian nasional. Terbuktilah sekarang. Ujian harta ini lebih berbahaya daripada kenaikan BBM.

Sabda Nabi saw:

“Sesungguhnya aku sudah memohon kepada Robbku untuk umatku, janganlah Dia membinasakan mereka dengan paceklik yang merajalela, jangan menundukkan mereka kepada musuh dari luar kelompok mereka yang menodai kedaulatan mereka. Sesungguhnya Robbku berfirman: Wahai Muhammad, sungguh jika Aku telah menetapkan suatu ketetapan, maka tidak bisa lagi ditolak. Aku berikan kepadamu untuk umatmu agar mereka tidak dibinasakan oleh paceklik yang merajalela, dan agar mereka tidak dikuasai musuh dari luar mereka yang akan menodai kedaulatan mereka, sekalipun musuh itu berkumpul dari seluruh penjuru dunia, kecuali jika sebagian mereka membinasakan sebagian yang lain, dan mereka saling manahan satu sama lain”

 

3.     Frederick Burks, mantan penerjemah Departemen Luar Negeri AS mengatakan: “Pada tanggal 16 September 2002 ada pertemuan rahasia di rumah Presiden Megawati, di jalan Teuku Umar Jakarta. Pertemuan itu diikuti lima orang: Megawati, Karen Brooks, (Direktur National Security Council wilayah Asia Pasific), Ralph Boyce (Dubes AS untuk Indonesia), Frederich Burks dan seorang wanita agen khusus CIA sebagai utusan spesial Presiden Bush”. Dalam pertemuan berdurasi 20-an menit itu, utusan khusus Bush meminta Mega agar me-render (menyerahkan secara rahasia) ustadz Abu Bakar Ba’asyir kepada pemerintahan AS, sebagaimana kasus Umar al-Faruq. Mega menolak, dengan alasan, Umar al-Faruq bisa di-render karena tidak dikenal oleh publik Indonesia dan tak mempunyai pendukung, sedangkan ustadz Abu Bakar dikenal publik dan banyak pengikutnya.

 

 

Sehingga jika di-render bisa menimbulkan instabilitas politik dan agama, yang tidak mungkin ditanggungnya. Akhirnya agen CIA itu mengancam;

“Jika ustadz Abu tidak diserahkan sebelum pertemuan APEC, maka “Situasinya akan bertambah buruk..” Benar saja, ancamannya dibuktikan sebulan kemudian, yaitu dengan peledakan Bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 pukul 00.00.

Jadi siapa yang berada di balik peristiwa Bom Bali I? Apakah Amrozi cs pelaku utamanya? Amrozi hanya membawa karbit 1 ton dengan mobil L300. Mengapa polisi takut melakukan rekonstruksi? Jika Anda ragu, jangan sekali-kali mengeksekusi mereka, karena jika Anda muslim, maka akan murtad!

Ingatlah hakim yang memvonis mati mereka tela mati duluan, jaksa yang menuntut hukuman mati (Urip Tri Gunawan) mereka kini dipermalukan dengan terbongkarnya suap Rp 6 M, apakah Anda mau menyusul terhina seperti mereka?

Penulis adalah Direktur Lembaga Kajian Strategis Islam (LKSI)

November 14, 2008

Penjelasan Kwik Kian Gie: Sebab-sebab Krisis Global dan Dampaknya terhadap Indonesia

Filed under: Uncategorized — myself @ 2:27 am

Ada tulisan nih dari pak Kwik Kian Gie, tentang sebab musabab Krisis Global. Dimana hal ini jarang di paparkan oleh media massa di Indonesia, namun banyak di jelaskan oleh media massa internasional. Berikut ini adalah beritanya.

————

Krisis Keuangan Global (Artikel 1)
Kamis, 06 Nopember 08

 

Sebab-sebab dan Dampaknya terhadap Indonesia 

Bahwa terjadi krisis maha dahsyat di Amerika Serikat yang menyebar ke semua negara di dunia sudah sangat banyak kita baca. Namun tidak banyak yang menjelaskan tentang sebab-sebabnya, dan juga tidak banyak yang menguraikan tentang landasan dari sebab-sebab itu, yaitu mashab pikiran atau ideologi yang memungkinkan dipraktekannya cara-cara penggelembungan di sektor keuangan. 

Tentang yang pertama, media massa di negara-negara maju banyak yang mengulasnya. Intinya sebagai berikut. 

Bank hipotik yang mengkhususkan diri memberikan kredit untuk pembelian rumah, dengan sendirinya mempunyai tagihan kepada penerima kredit yang menggunakan uangnya untuk membeli rumah. Jaminan atas kelancaran pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya adalah rumah yang dibiayai oleh bank hipotik tersebut. Kita sebut tagihan ini tagihan primer, karena langsung dijamin oleh rumah, atau barang nyata. Tagihannya bank hipotik kepada para penerima kredit berbentuk kontrak kredit yang berwujud kertas. Istilahnya adalah pengertasan dari barang nyata berbentuk rumah. Karena kertas yang diciptakannya ini mutlak mewakili kepemilikan rumah sebelum hutang oleh pengutang lunas, maka kertas ini disebut surat berharga atau security. Pekerjaan mengertaskan barang nyata yang berbentuk rumah disebutsecuritization of asset

Katakanlah bank hipotik ini bernama Bear Sterns. Bear Sterns mengkonversi uang tunainya ke dalam kewajiban cicilan utang pokok beserta pembayaran bunga oleh para penghutang atau debitur. Jadi uang tunai atau likuiditasnya berkurang. Namun Bear Sterns memegang surat berharga atau security yang berbentuk kontrak kredit atau tagihan kepada para debiturnya. Bear Sterns mengelompokkan surat-surat tagihan tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang setiap kelompoknya mengandung surat tagih dengan tanggal jatuh tempo pembayaran yang sama. Setiap kelompok ini dijadikan landasan untuk menerbitkan surat utang yang dijual kepada Lehman Brothers (misalnya) dan bank-bank lain yang semuanya mempunyai nama besar. Yang sekarang dilakukan oleh Bear Sterns bukan menerbitkan surat piutang, tetapi surat janji bayar atau surat utang. Atas dasar surat piutang kepada ratusan atau ribuan debiturnya, Bear Sterns menerbitkan surat utang kepada Lehman. Uang tunai hasil hutangnya dari Lehman dipakai untuk memberi kredit lagi kepada mereka yang membutuhkan rumah. Seringkali untuk membeli rumah kedua, ketiga oleh orang yang sama, sehingga potensi kreditnya macet bertambah besar. 

Penerbitan surat berharga berbentuk surat janji bayar atau promes disebut securitization of security. Bahasa Indonesianya yang sederhana “mengertaskan kertas.” Surat berharga ini kita namakan surat berharga sekunder, karena tidak langsung dijamin oleh barang yang berbentuk rumah, melainkan oleh kertas yang berwujud surat janji bayar oleh bank hipotik yang punya nama besar. 

Lehman memegang surat utang dari Bear Sterns dan juga dari banyak lagi perusahaan-perusahaan sejenis Bear Sterns. Seluruh surat ini dikelompokkkan lagi ke dalam wilayah-wilayah geografis, misalnya kelompok debitur California, kelompok debitur Atlanta dan seterusnya. Oleh Lehman kelompok-kelompok surat-surat utang dari bank-bank ternama ini dijadikan landasan untuk menerbitkan surat utang yang dibeli oleh Merril Lynch dan bank-bank lainnya dengan nama besar juga. Kita namakan surat utang ini surat utang tertsier. 

Demikianlah seterusnya, satu rumah sebagai jaminan menghasilkan uang tunai ke dalam kas dan bank-bank ternama dengan jumlah keseluruhan yang berlipat ganda. Media massa negara-negara maju menyebutkan bahwa bank-bank tersebut melakukan sliced and diced, yang secara harafiah berarti bahwa satu barang dipotong-potong dan kemudian masing-masing diperjudikan. Maka banyak bank yang debt to equity ratio-nya 35 kali. 

Sekarang kita bayangkan adanya pembeli rumah yang gagal bayar cicilan utang pokok beserta bunganya. Kalau satu tagihan dipotong-potong (sliced) menjadi 5, yang masing-masing dibeli oleh bank-bank yang berlainan, maka gagal bayar oleh satu debitur merugikan 5 bank. Ini sebagai contoh. Dalam kenyataannya bisa lebih dari 5 bank yang terkena kerugian besar, karena kepercayaan bank-bank besar di seluruh dunia kepada nama-nama besar investment banks dan hedge funds di AS. 

Dampak pertama adalah bahwa bank tidak percaya pada bank lain yang minta kredit kepadanya melalui pembelian surat berharganya. Ini berarti bahwa bank-bank yang tadinya memperoleh likuiditas dari sesama bank menjadi kekeringan likuiditas, sedangkan bank-bank yang termasuk kategori investment bank atau hedge fund tidak mendapatkan uangnya dari penabung individual, tetapi dari bank-bank komersial atau sesama investment bank atau sesama hedge funds. Jadi dampak pertama adalah kekeringan likuiditas. 

Dampak kedua adalah bahwa bank yang menagih piutangnya yang sudah jatuh tempo tidak memperoleh haknya, karena bank yang diutanginya tidak mampu membayarnya tepat waktu, karena pengutang utamanya, yaitu individu yang membeli rumah-rumah di atas batas kemampuannya memang tidak mampu memenuhi kewajibannya. Lembaga-lembaga keuangan di Amerika Serikat dengan sadar memberikan kredit rumah kepada orang yang tidak mampu. Itulah sebabnya namanya subprime mortgage. Sub artinya di bawah. Prime artinya prima atau bonafid. Jadi dengan sadar memang memberikan kredit rumah kepada orang-orang yang tidak bonafid atau tidak layak memperoleh kredit. Bahwa kepada mereka toh diberikan, bahkan berlebihan, karena adanya praktek yang disebut sliced and diced tadi. Dampak kedua ini, yaitu bank-bank gagal bayar kepada sesama bank mengakibatkan terjadinya rush oleh bank-bank pemberi kredit, antara lain kepada Lehman Brothers. Maka Lehman musnah dalam waktu 24 jam. 

Ketika surat utang inferior yang disebut subprime mortgage macet, barulah ketahuan bahwa begini caranya memompakan angin ke dalam satu surat utang yang dijual berkali-kali dengan laba sangat besar. 

Ketika balon angin keuangan meledak, Henry Paulson sudah menjabat menteri keuangan AS. Dia melakukan tindakan-tindakan yang buat banyak orang membingungkan, tetapi buat beberapa orang, dia manusia yang hebat, tegas, dan menurutnya sendiri bersenjatakan bazooka. (Newsweek tanggal 29 September 2008 halaman 20). Ada alasan untuk menganggapnya orang hebat. Dia mahasiswa Phi Beta Kappa dari Dartmouth. Penghubung antara gedung putihnya Nixon dan Departemen Perdagangan. MBA dari Harvard, bergabung dengan Goldman Sachs Chicago di tahun 1974, menjadi CEO-nya dari 1998 sampai 2006. Dan sekarang menteri keuangan AS. 

Maka dialah yang ketiban beban berat menghadapi krisis yang maha dahsyat yang sedang berlangsung. Tindakan-tindakannya seperti semaunya sendiri atau bingung. Dia memfasilitasi JP Morgan untuk membeli Bear Sterns dengan harga hanya US$ 2 per saham, yang dalam waktu singkat direvisi menjadi US$ 10. Fannie Mae dan Freddie Mac, perusahaan quasi milik pemerintah telah memberikan jaminan kredit sebesar US$ 5,4 trilyun. Untuk menyelamatkannya dua perusahaan penjaminan kredit tersebut dibeli oleh pemerintah dengan jumlah uang US$ 80 milyar. Lehman Brothers disuruh bangkrut saja. Merril Lynch dijual kepada Bank of America. Akhirnya dia menyodorkan usulan supaya pemerintah AS menyediakan uang US$ 700 milyar untuk menanggulangi krisis. Kongres marah, karena alasan ideologi. Bagaimana mungkin bangsa yang kepercayaannya pada keajaiban mekanisme pasar bagaikan agama mendadak disuruh intervensi dengan uang yang begitu besar? Wall Street guncang luar biasa. Kongres rapat lagi dan “terpaksa” menyetujui usulan Hank Paulson dan Bernanke, Presiden Federal Reserve, supaya pemerintah AS menggunakan uang rakyat pembayar pajaknya sebesar Rp 700 milyar untuk mencoba menyelesaikan masalah keuangan yang maha dahsyat itu. Saya katakan mencoba, karena setelah disetujui, Wall Street tetap saja terpuruk.

Maka masyarakat menjadi panik, kepercayaan kepada siapapun hilang. Dengan adanya pengumuman bahwa perusahaan-perusahaan besar dengan nama besar dan sejarah yang panjang ternyata bangkrut, saham-sahamnya yang dipegang oleh masyarakat musnah nilainya. Masyarakat bertambah panik. 

Seperti telah dikemukakan sangat banyak kertas-kertas derivatif diciptakan oleh bank-bank dengan nama besar, sehingga tanpa ragu banyak bank-bank besar di seluruh dunia membelinya sebagai investasi mereka. Kertas-kertas berharga ini mendadak musnah harganya, sehingga banyak bank yang menghadapi kesulitan sangat kritis. 

Dampaknya terhadap Indonesia 

Secara rasional dampaknya terhadap Indonesia sangat kecil, karena hubungan ekonomi Indonesia dengan AS tidak ada artinya. Praktis tidak ada uang Indonesia yang ditanam ke dalam saham-saham AS yang sekarang nilainya merosot atau musnah. Hanya milik orang-orang Indonesia kaya dan super kaya yang tertanam dalam saham-saham perusahaan-perusahaan AS. Uang inipun jauh sebelum krisis sudah tidak pernah ada di Indonesia. 

Dampak yang riil dan sekarang terasa ialah dijualnya saham-saham di Bursa Efek Indonesia oleh para investor asing karena mereka membutuhkan uangnya di negaranya masing-masing. Maka IHSG anjlok. Uang rupiah hasil penjualannya dibelikan dollar, yang mengakibatkan nilai rupiah semakin turun. Namun sayang bahwa kenyataan yang kasat mata ini tidak mau diakui oleh pemerintah, sehingga pemerintah memilih membatasi Bursa Efek dalam ruang geraknya dengan cara mengekang Bursa Efek demikian rupa, sehingga praktis fungsi Bursa Efek ditiadakan. 

Kebijakan lain ialah mengumumkan memberikan jaminan keamanan dan keutuhan uang yang disimpan dalam bank-bank di Indonesia sampai batas Rp 2 milyar. Ini sama saja mengatakan kepada publik di seluruh dunia supaya jangan menyimpan uangnya di bank-bank di Indonesia yang melebihi Rp 2 milyar. 

Karena pengaruh teknologi informasi yang demikian canggihnya, semua berita-berita tentang krisis yang melanda negara-negara maju dapat diikuti. Pengaruh psikologisnya ialah kehati-hatian dalam membelanjakan uangnya yang berarti konsumsi akan menyusut dengan segala akibatnya. 

Setelah Bank Indonesia menjadi independen ada kecenderungan terjadinya ego sektoral. Karena tugas pimpinan BI terfokus pada menjaga stabilitas nilai rupiah dan menjaga tingkat inflasi, semuanya dipertahankan at any cost. Maka di banyak negara maju yang menjadi cikal bakal pikiran independennya bank sentral menurunkan tingkat suku bunga, di Indonesia dinaikkan sangat tinggi yang lebih memperpuruk sektor riil yang sudah terpuruk karena menurunnya drastis permintaan dari negara-negara tujuan ekspor. 

Hal yang kurang dipahami adalah faktor-faktor, kekuatan-kekuatan serta mekanisme yang bekerja setelah meletusnya gelembung angin (bubble) keuangan menyeret perekonomian global ke dalam spiral yang menurun. 

Sejak lama kita mengenal adanya gejala gelombang pasang surutnya ekonomi atau business cycle atau conjunctuur yang selalu melekat pada sistem kapitalisme dan mekanisme pasar. Cikal bakal tercapainya titik balik teratas menuju pada kemerosotan, dan sebaliknya, cikal bakal tercapainya titik balik terendah menuju pada kegairahan dan peningkatan ekonomi bisa macam-macam. Tetapi pola kemerosotan dan pola peningkatannya selalu sama. 

Seberapa besar pemerintah mempunyai kemampuan mempengaruhinya tergantung pada struktur ekonomi dalam aspek perbandingannya antara ketersediaan modal dan ketersediaan tenaga kerja. Bagian ini dari ekonomi tidak banyak dibicarakan oleh para ahli. Apakah karena mereka kurang paham, ataukah gejala business cycle sudah mati, sudah kuno dan tidak berlaku lagi? 

Kita telusuri dalam tulisan berikutnya. 

Oleh Kwik Kian Gie

http://www.koraninternet.com/webv2/lihatartikel/lihat.php?pilih=lihat&id=9871

September 15, 2008

Depdiknas Pelit, Tak Mau Gratiskan Biaya Pendidikan

Filed under: Uncategorized — myself @ 8:02 am
from Taufik Dwidjowinarto

Walau anggaran pendidikan telah dinaikkan menjadi 20% dari APBN tahun 2009, namun ternyata kenaikan anggaran sebesar itu tidak lantas membuat biaya pendidikan menjadi gratis.
Kebijakan yang diputuskan oleh jajaran birokrasi Depdiknas adalah tidak akan menggratiskan pendidikan. Anggaran akan lebih banyak dialokasikan untuk upaya peningkatan mutu.

Namun argumentasi pengalokasian anggaran yang akan lebih banyak diarahkan untuk upaya peningkatan mutu daripada untuk upaya mengratiskan biaya pendidikan, konon kabarnya oleh beberapa pengamat ditengarai hanyalah sebagai dalih untuk memperbanyak dan mempergemuk jumlah dan nilai proyek-proyek yang akan dikelola oleh birokrasi Depdiknas saja. 

Beberapa pengamat juga menengarai indikasi bahwa 60% sampai 70% dari anggaran pendidikan akan habis untuk pelayanan dan birokrasi. 

Weladalah, kecele iki…..
Rakyat kecele lagi, lagi lagi rakyat kecele lagi…..
Kok tak mau menggratiskan pendidikan ?, apa sih ruginya ?, merasa rugi kalau rakyat menjadi senang ?…..
Pelit amat sih…..
Nanti rezekinya nggak barokah lho…..

Wallahu’alambishshawab.

*****

Meskipun anggaran pendidikan bakal naik menjadi Rp 224 triliun atau 20 persen dari APBN 2009, pemerintah tidak akan menggratiskan pendidikan.

Kenaikan anggaran tersebut diarahkan untuk menyelenggarakan wajib belajar sembilan tahun yang lebih baik, murah, dan terjangkau. Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional Dodi Nandika mengatakan hal itu dalam diskusi publik bertajuk ”Anggaran Pendidikan 20 persen, Mau Dibawa ke Mana ?” yang berlangsung di Jakarta, Kamis (11/9). ”Kita tidak menggunakan istilah gratis, tetapi wajib belajar sembilan tahun itu harus lebih baik, murah, dan terjangkau”, kata Dodi.

Dodi meminta supaya peningkatan mutu pendidikan tidak berhenti pada tingkatan pendidikan dasar. Yang juga mesti difokuskan adalah peningkatan akses dan mutu di pendidikan tinggi.

Utomo Dananjaya, pengamat pendidikan, menilai, pemerintah tidak menjalankan amanat UUD 1945 dan UU Sistem Pendidikan Nasional mengenai kewajiban negara untuk membiayai pendidikan dasar. ”Jika tidak mau menggunakan kata gratis, pendidikan dasar itu tetap tanpa memungut biaya. Jadi, bukan murah dan terjangkau”, kata Utomo.

Sulistiyo, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia, menegaskan, penggunaan anggaran pendidikan nasional harus mengutamakan peningkatan mutu dan berpihak kepada masyarakat. ” Selama ini dana pendidikan lebih tersedot untuk birokrasi”, ujarnya.

Tingkatkan Pengawasan .

Dodi Nandika mengatakan, selain membiayai wajib belajar sembilan tahun yang murah dan terjangkau, Departemen Pendidikan Nasional memfokuskan penggunaan anggaran pendidikan untuk kesejahteraan guru dan dosen. Selain itu juga untuk penyelenggaraan pendidikan menengah yang lebih baik, serta pemberian beasiswa pendidikan S-1 sampai S-3 bagi peraih medali di ajang olimpiade internasional. Dana lainnya untuk peningkatan kualitas pendidikan nonformal.

Pemerintah Tak Akan Gratiskan Pendidikan : Sasaran Wajib Belajar adalah Peningkatan Mutu.
12 September 2008.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/12/00513341/pemerintah.tak.akan.gratiskan.pendidikan

September 5, 2008

Skenario Besar Liberalisasi Energi

Filed under: Uncategorized — myself @ 3:10 am
2008-09-05 06:31:00

Ada skenario besar di balik liberalisasi sektor energi Indonesia? Pengamat sosial ekonomi, Ichsanudin Noorsy, menegaskan, ”iya”.”Liberalisasi sektor migas itu perannya Bank Pembangunan Asia (ADB), USAID (lembaga donor dari Amerika Serikat), dan Bank Dunia. Bagaimana pemerintah diminta berhati-hati supaya bahan bakar minyak (BBM) publik dicabut subsidinya. Ini adalah skenario besar,” kata Noorsy usai dipanggil Panitia Penyelidikan (Hak Angket) BBM DPR, Kamis (4/9).Ada dua dokumen yang dibeberkan Ichsanudin soal keterlibatan asing. Pertama, surat yang mencantumkan nama Duta Besar AS untuk Indonesia, Stapleton Roy (1996-1999), terkait penyusunan Undang-Undang (UU) No 22/2001 tentang Migas dan liberalisasi sektor listrik.

Kedua, dokumen Bank Dunia terkait Energy Sector Governance Strenghened 497-013 pada 2000. Dalam dokumen itu, Bank Dunia menilai kebijakan energi pemerintah tidak tepat. Sebab, pemerintah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk menyubsidi BBM, sedangkan sektor kesehatan, pendidikan, dan sosial lainnya terbengkalai.Bank Dunia menyarankan pemerintah meminimalisasi perannya sebagai regulator, memotong subsidi, dan meningkatkan peran serta swasta. Kalau menerapkan saran ini, Bank Dunia yakin pemerintah memperoleh keuntungan miliaran dolar AS dari sektor energi, terutama pajak. Selain harga yang makin rasional, dampak lingkungan yang minim dan mempertahankan sumber daya alam nasional.

Lembaga USAID berperan dalam memberi masukan-masukan pengembangan kebijakan itu, termasuk bagaimana menerapkan kebijakan kunci serta reformasi kebijakan dan aturan hukumnya. USAID juga membantu analisis harga energi dan pemotongan subsidi nasional serta dibukanya sektor listrik untuk swasta.Dokumen yang sama menunjukkan USAID bergandeng tangan dengan erat bersama ADB dan Bank Dunia terkait reformasi dengan menggelontorkan dana 20 miliar dolar AS dalam bentuk utang. ADB dan USAID juga bekerja sama membuat UU Migas yang baru saat itu. Malahan jangka waktu liberalisasi penuh sektor migas adalah Januari tahun depan.

Apa dampak liberalisasi ini bagi Indonesia? Ichsanudin mengatakan, ”Nantinya akan ada kartel hulu migas oleh pemain asing,” katanya. Pada akhirnya ini membuat hulu dan hilir sektor energi tak sesuai UUD 1945.”Artinya, kita bersedia dikendalikan oleh kekuatan pasar.Kokkebijakannya seperti ini, padahal APBN punya peran menstabilkan harga, menyejahterakan rakyat,” katanya seraya menegaskan kenaikan harga BBM kemarin melanggar konstitusi.

Ia juga membandingkan dokumen Bank Dunia yang menyarankan agar pemerintah mencabut subsidi energi bertahap lima tahunan hingga dilepas ke harga pasar sepenuhnya. ”Ini kan sama dengan yang diusulkan Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, yang mengatakan harga BBM akan disesuaikan bertahap,” sambungnya.Anggota Panitia Angket, Tjatur, menilai paparkan Ichsanudin memberi wawasan tentang yang sebenarnya terjadi di balik liberalisasi sektor migas nasional. ”Itu sangat mempengaruhi karena jiwa UU Migas itu sangat proekonomi pasar. Sektor energi kita masuk ke perangkap pasar hanya sebagai komoditas bukan jadi aspek penting pertahanan nasional,” katanya.

Kewajiban pemerintah
Selain mengungkapkan dokumen yang membuat sejumlah anggota panitia angket geleng-geleng kepala dan heran, pengamat asal Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu mempermasalahkan istilah subsidi oleh pemerintah. Definisinya sekarang tidak jelas karena subsidi hanya diartikan sebagai selisih antara harga pasar dan harga jual pemerintah.

Sementara dari kacamata konstitusi, yang disebut subsidi oleh pemerintah itu bukanlah subsidi melainkan memang kewajiban pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya.Untuk mengklarifikasi semua ini, ia mendukung pemanggilan sejumlah mantan menteri energi. Termasuk Susilo Bambang Yudhoyono. ”Ia tahu dan mengertilah soal bagaimana sejarah pembuatan UU Migas waktu itu.” Selain SBY, nama lain yang diusulkan dipanggil adalah Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dan Menko Perekonomian Sri Mulyani. evy

 

http://republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/0/news_id/1446

Bukti Baru Intervensi asing ke UU Migas

Filed under: Uncategorized — myself @ 2:54 am

Permainan-permainan yang berkorelasi dengan UU Migas semakin kelihatan, setelah di beberkan olah Ichsanuddin Noorsy. Yah, semoga struktur Migas kita bisa tertata dengan lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat. Maju terus panitia angket BBM!

———

Intervensi Asing di Sektor Energi Terkuak
IBRD Kucurkan 420 Juta Dollar AS
Jumat, 5 September 2008 | 00:16 WIB
Jakarta, Kompas – Adanya intervensi asing dalam pengelolaan energi nasional terus terkuak dalam pemanggilan saksi-saksi oleh Panitia Angket Dewan Perwakilan Rakyat.

Ichsanuddin Noorsy, sebagai saksi ahli di Panitia Angket, Kamis (4/9), menunjukkan sejumlah dokumen yang semakin menguatkan adanya intervensi asing tersebut.

Dokumen itu, antara lain, semacam radiogram (teletex) dari Washington kepada Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia J Stapleton Roy untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan seperti tertulis di dokumen itu.

Dalam dokumen tersebut, antara lain, tertulis: naskah RUU Minyak dan Gas diharapkan dikaji ulang parlemen Indonesia pada bulan Januari. Dokumen itu dikategorikan confidential yang ditindih cap unclassified.

Ichsanuddin juga menyerahkan dokumen laporan Bank Dunia berjudul Proyek Energi Indonesia yang disiapkan 17 November 2000. Dalam dokumen itu tertulis nilai proyek 730 juta dollar AS. Sebanyak 310 juta dollar AS merupakan dana pemerintah dan 420 juta dollar AS di antaranya dari International Bank for Reconstruction and Development (IBRD).

Sebelumnya, Panitia Angket juga mendapatkan data bahwa USAID, lembaga swadaya AS, mengucurkan dana 21 juta dollar AS untuk asistensi revisi UU Migas. ”Diliberalkannya industri migas itu, selain tertuang di letter of intent, juga tertuang di ADB (Bank Pembangunan Asia), USAID, dan Bank Dunia,” ucap Ichsanuddin.

Menurut Ichsanuddin, yang paling diuntungkan dari adanya liberalisasi migas adalah kartel industri migas.

Panitia Angket menyambut gembira adanya dokumen-dokumen tersebut. ”Dokumen dan penjelasannya luar biasa,” ucap Effendy Choirie dari Fraksi Kebangkitan Bangsa.

Eva Kusuma Sundari dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan bahkan mengaku sangat kaget dengan adanya dokumen-dokumen tersebut.

Menurut Dradjad Wibowo dari Fraksi Partai Amanat Nasional, dokumen-dokumen ini semakin mengindikasikan kuat bahwa pembuatan UU Migas sarat intervensi asing.

Panggil pejabat terkait

Untuk menelusuri sejauh mana intervensi asing ini memengaruhi pengambil kebijakan, Ichsanuddin merekomendasikan Panitia Angket memanggil semua pejabat yang terkait.

”Yang mestinya dipanggil, misalnya, Purnomo (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral). Bagaimana undang-undang itu dibuat? Bagaimana Purnomo menggagas pencabutan subsidi yang ternyata cocok dengan dokumen tadi yang memerintahkan pencabutan subsidi?” kata Ichsanuddin.

Ia juga menyinggung Perpres Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 yang mengatakan subsidi harus dikurangi bertahap.

”Panggil juga Bappenas, Sri Mulyani kenapa menggagas pencabutan subsidi?” ujarnya. (SUT)

Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa atau Mafia Pendidikan ?

Filed under: Uncategorized — myself @ 2:39 am

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi semua lapisan masyarakan kian sulit. Hal ini banyak dikarenakan dengan kompetensi pendidik yang teramat sangat tidak merata. Hal ini lah yang akan menjadikan suatu sekolah itu favorite atau non favorite. Semakin favorite sekolah itu, artinya bisa “marketable” atau mempunya nilai jual. Ujung – ujungnya adalah penarikan duit tinggi dari para orang tua murid, yang saat ini semakin tercekik oleh situasi ekonomi yang konon kata SBY-JK kian ‘membaik’. Hal ini sehingga menimbulkan asumsi-asumsi bahwa guru sebenarnya adalah mafia pendidikan, berbanding terbalik dengan cap ‘Pahalawan tanpa tanda Jasa’. Apakah semua guru seperti itu. Ya tentunya tidak dunk!  Pada saat saya SMA dulu, saya membuat tulisan pada pelajaran PSPB yang diacungi jempol oleh guru saya, meskipun ini adalah tulisan pedan, bukan klise. Saya membuat statement bahwa ada sebenarnya guru yang masih dapat diberi penghargaan sebagai pahlawan, tapi itu guru di daerah terpencil, yang berusaha keras untuk meningkatkan pendidikan bangsa. Dengan segala jerih payah, bahkan untuk mendapatkan tambahan penghasilan (sebagai guru saat itu penghasilannya teramat kecil), ada yang menjadi pemulung, ato usaha lainnya di luar waktu mengajar di sekolah. Guru-guru inilah yang hanya berhak mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan. Rata-rata guru di daerah kota besar di Jawa , rasanya sangat jarang yang memenuhi kriteria pengabdian setara itu. Alih-alih meningkatkan kecerdasan bangsa, guru bahkan menjadi makelar atau mafioso pendidikan. Hal ini harus diberantas. Guru dipersilahkan minggat dari sekolah bila hanya untuk memupuk kekayaan, silakan menjadi wirausahawan kalau ingin kaya. Selain itu perlu semakin digalakkannya standarisasi kompetensi guru, ini musti sangat dipaksakan. Yang tidak kompeten ya mungkin bisa dicarikan kompetensi lainnya, misalnya diarahkan ke seni budaya. Ratakan standar pendidikan di Indonesia! Sehingga seperti halnya di Jerman, maka sekolah-sekolah atau Universitas sampai ke daerah terpencilpun mempunyai standar yang setara. Sehingga istilah sekolah favorite bisa ditekan seminimal mungkin. Setiap masyarakat bisa mendapatkan pendidikan layak yang setara. Berikut ini merupakan petikan dari mediaindonesia mengenai statement walikota tentang adanya guru yang menjadi mafia pendidikan.

————–

Jumat, 05 September 2008 00:01 WIB
PUNGLI
Wali Kota Tuding Guru Mafia Pendidikan
BEKASI (MI): Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad menuding sejumlah pihak di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) dan para guru di Bekasi adalah mafia pendidikan. 
Tudingan itu dilontarkan Wali Kota Bekasi pascapemecatan sebanyak 10 kepala sekolah negeri di Bekasi dari jabatan mereka karena diduga menarik iuran penerimaan siswa baru tanpa mengikuti prosedur yang ditetapkan pemerintah kota setempat. 
“Jika kebijakan saya mengenai pemecatan 10 kepala sekolah dianggap sebuah kesalahan oleh pejabat Disdik, yang melontarkan pernyataan tersebut adalah penjahat pendidikan yang sebenarnya,” kata Mochtar kepada wartawan di Bekasi, kemarin. 
Menurut Mochtar, Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) Kota Bekasi telah diterjunkan untuk mencari tahu siapa saja pejabat baik dari lingkungan Disdik maupun guru yang berusaha membiaskan persoalan tersebut sebagai kesalahan Wali Kota. “Sejumlah pejabat sudah diketahui membela para kepala sekolah yang dicopot,” katanya tanpa menyebutkan siapa nama pejabat yang dimaksud. 
Dengan nada tinggi, Wali Kota Bekasi menegaskan pejabat yang terlibat dalam kasus tersebut akan mengalami nasib sama dengan 10 kepala sekolah yang dicopot. “Tunggu saja tanggal mainnya,” tegas Mochtar. 
Ke-10 kepala sekolah negeri yang dicopot itu adalah lima kepala SMPN, yaitu Adin Wahyuni (Kepala SMPN 2), Mohamad Ridwan (Kepala SMPN 3), Alri Ningsih (Kepala SMPN 10), Ahmad Zuraidi (Kepala SMPN 9), dan Uka Sukara (Kepala SMPN 18). Adapun Empat lainnya adalah kepala SDN, yakni Uyun Suryana (Kepala SDN IV Margajaya), Ratna Nurhayati (Kepala SDN V Margajaya), Ujang Tedy Supriatna (Kepala SDN Jatimekar I), dan Sahdan (Kepala SDN Ciketing Udik I). Selain itu Kepala SMAN 2 Bahrum juga dipecat. 
“Ke-10 kepala sekolah itu terbukti melanggar aturan. Mereka harus dicopot dari jabatan masing-masing karena melakukan pungutan liar (pungli) yang menyebabkan orang tua murid terbebani,” kata Wali Kota Bekasi. (GG/J-2)
 
http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MjgwODI=

September 3, 2008

Thanks SBY atas di-cancel nya Kenaikan Elpiji

Filed under: Uncategorized — myself @ 1:00 pm

Untunglah Mr. SBY sadar akan potensi impact kenaikan elpiji 12 Kg  terhadap masyarakat. Hal ini dengan memotong deviden pemerintah untuk -let’s say mensubsidi bangsa ini. Ini saya kira sudah cukup arif dalam konteks ini, karena akan aneh tho, Pertamina akan membukukan untung 500 triliun tahun ini, namun masyarakat pontang panting akibat harga Elpiji yang langsung terkantrol bahkan sampai 140 ribu rupiah, karena ada sinyalamen dinaikkannya elpiji bertahap tiap bulan sampai ke angka 140 ribu rupiah. Anyway, thank’s Mr. President.

Agustus 26, 2008

Elpiji Naik Tiap Bulan ? Buseeeeeeet

Filed under: Uncategorized — myself @ 12:36 pm

Di tengah-tengah usaha yang lagi lesuh, masyarakat dikejutkan dengan
pengumuman Pertamina menaikkan harga elpiji ukuran 12 kg, dan mengurangi
diskon ukuran 50 kg (otomatis harganya menjadi naik juga). Mulai berlaku,
Senin, 25 Agustus 2008. Dunia usaha rumah makan, terutama level menengah
ke bawah tentu akan paling merasa terpukul. Biaya usaha sudah pasti akan
naik dengan cukup signifikan. Usaha sudah sepi, biaya malah bertambah.
Lebih memberatkan lagi adalah di pasaran kenaikan harga elpiji tersebut
rata-rata lebih tinggi daripada yang ditetapkan Pertamina. Misalnya,
Pertamina menetapkan harga ukuran 12 kg menjadi Rp 69.000/tabung.
Kenyataannya, di pasaran harga jual di atas Rp 70.000.. Bahkan ada yang
sampai Rp. 80.000/tabung! Pihak Pertamina mengatakan bahwa kenaikan harga
ini dilakukan karena Pertamina tidak mau rugi terus. Jadi, barangkali
maksudnya, biarlah kerugian Pertamina itu dialihkan ke masyarakat saja.
Seperti biasa, masyarakat pun marah-marah. Pengamat pun menulis kritik di
koran-koran. Tetapi’ juga seperti biasa, Pertamina berpegang pada
peribahasa: “anjing menggongong kafilah tetap berlalu.” Atas
suara-suara protes tersebut, Pertamina seolah berkata, silakan marah-marah
sampai mulut berbusa, silakan menulis kritik sampai jari bengkak, kenaikan
harga elpiji ini bukan sekarang ini saja. Tapi nanti Pertamina akan
menaikkannya lagi setiap bulan! “Nanti, harga gas elpiji di
Indonesia akan mengikuti harga gas dunia…Tidak ada lagi subsidi.
Kecuali untuk ukuran 3 kg..” Kata Juru Bicara Pertamina, Wisnuntoro.
Itu artinya harga gas elpiji nanti untuk ukuran 15 kg, minimal menjadi Rp.
136.800/tabung! Dengan harga sedemikian bias eksiskah pengusaha rumah
makan mengah ke bawah? Mau kembali ke minyak tanah? Minyak tanah sudah
langka, Bung! Dalam rangka program migrasi penggunaan minyak tanah ke
elpiji, saat ini saja minyak tanah sudah sulit didapat. Apalagi dalam
jumlah yang reklatif banyak. Nah, berbicara tentang elpiji 3 kg. Saya jadi
teringat dengan program Pertamina untuk mengalihkan pemakaian minyak tanah
ke gas elpiji, yang dikampanyekan selama sekitar satu setengah tahun ke
masyarakat-masyarakat kecil yang sebagai pemakai utama minyak tanah.
Tujuan pemerintah adalah agar masyarakat tidak menggunakan minyak tanah
lagi untuk keperluan memasak, beralih ke gas elpiji. Agar terjangkau
dibuatlah elpiji ukuran 3 kg dengan harga hanya Rp 15.000/tabung.
Pemerintah berupaya “memaksa” masyarakat pemakai minyak tanah
untuk segera pindah ke elpiji. Kampanyenya mengatakan alasan “harus
pindah” ke elpiji adalah karena antara lain; elpiji lebih bersih,
lebih murah, dan lebih aman daripada minyak tanah. Bersusah-susah
Pemerintah mengkampanyekan migrasi minyak tanah ke gas elpiji tersebut.
Upaya tersebut tidak mudah karena masyarakat tersebut sudah sejak lama
menggunakan minyak tanah, banyak yang enggan menggunakan elpiji dan tidak
tahu caranya. Setelah sekitar satu tahun kampanye itu mulai menunjukkan
hasilnya, dengan mulainya masyarakat pengguna minyak tanah itu beralih ke
elpiji. Eh, hal ini malah menunjukkan begitu lemahnya kinerja Pertamina.
Kenapa? Suruh orang pindah, dari minyak tanah diganti dengan pakai elpiji.
Giliran orang sudah mau pindah, eh, elpiji 3 kg nya sulit didapat di
pasaran. Terjadilah kelangkaan elpiji tabung 3 kg. Banyak orang kelabakan.
Kompor minyak tanah sudah telanjur dijual, atau diloak. Waktu itu orang
Pertamina berdalih karena begitu banyaknya permintaan sehingga pasokan
tidak cukup! Alasan yang lagi-lagi menunjukkan kualitas kerjanya sendiri.
Bukankah seharusnya mereka sudah harus mengantisipasinya? Sudah berhitung,
sudah punya data-data, perhitungan, kalkulasi, dan sejenisnya untuk
menghadapi hasil dari proyek migrasi minyak tanah ke elpiji yang diadakan
sendiri itu? Mungkin sudah menjadi tadisi dan sekaligus kualitas kerja
aparat kita: Lemah dalam data, penggunaan data, dan pengantisipasiannya.
Budaya “Bagaimana nanti”, barangkali yang menjadi faktor
utamanya. Demikian pula dengan kasus kelangkaan listrik yang sempat heboh.
Itu semua berangkat dari lemahnya pemerintah dalam mengolah data untuk
melakukanlangkah-langkah antisipasi. Akibatnya fatal. Industri kesulitan
listrik. Padahal pemerintahlah yang berupaya selama bertahun-tahun
mengundang para investor untuk menanam modalnya di sini.. Baik dari dalam
maupun luar negeri. Giliran investasi cukup berhasil dicapai, eh,
listriknya kurang. Cerita lainnya dari PLN, yang akhir-akhir ini suka main
ancam pengusaha yang tidak mau menurut program hemat listriknya. Pengusaha
restoran dan mall/plasa sempat diancam PLN agar mau menggunakan genset
sendiri dua kali dalam seminggu (sekarang melunak dgn sekali dalam
seminggu). Tetapi PLN tidak mau tau dengan kesulitan pengusaha untuk
memperoleh solar sebagai bahan baker gensetnya. Karena Pertamina melarang
penjualan solar di SPBU-SPBU kalau tidak untuk langsung kendaraan
bermotor. PLN juga tidak paham, baru ngeh, setelah bertemu dengan para
pengusaha mal/plasa dan restoran, karena sebagian ternyata belum punya
genset, dan untuk membeli genset baru bukan perkara mudah karena biayanya
(harganya) yang mahal. Kembali ke masalah kenaikan harga elpiji ukuran 12
kg dan 50 kg. Yang paling terasa sudah pasti untuk ukuran 12 kg. Ukuran
ini paling banyak dipakai. Baik di rumah tangga, maupun di usaha makanan
kelas menengah ke bawah. Dengan kenaikan tersebut yang tidak akan berhenti
sampai di sini saja, maka industri makanan kelas menengah ke bawah sudah
pasti akan terpukul-pukul. Hampir pasti akan banyak yang berhasil di-K.O.
Pertamina. Usaha sudah sepi, biaya malah bertambah-tambah. Mau menaikkan
harga makanan? Nanti bisa-bisa di-good bye konsumen. Terus bagaimana kiat
pengusaha makanan mengah/kecil ini? Sudah hampir pasti mereka akan
rame-rame memburu ukuran 3 kg yang sudah langka akan menjadi semakin
langka. Asal tau saja, menurut Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan
Minuman (Gapmmi) Franky Sibarani, dari sekitar 1 juta pengusaha yang
bernaung di bawh Gapmmi, hanya 0,5% yang masuk kategori besar. Sisanya
99,5% adalahpengusaha menengah ke bawah. (Kontan, 25/08/08). Maka jangan
heran, kalau nanti elpiji tabung 3 kg yang seharusnya hanya untuk rumah
tangga kurang mampu akan menjadi serbuan para pengusaha makanan tersebut.
Apalagi disparitas (selisih harga) antara tabung 15 kg dengan 3 kg itu
akan semakin jauh, dengan adanya kenaikan setiap bulan dari Pertamina
sampai mencapai harga hampir dua kali lipat dari sekarang (Rp. 11.400/kg
atau Rp. 136.800/tabung). . Akibatnya stok ukuran 3 kg itu akan menjadi
semakin langka. Sehingga membuat susah rumah tangga keluarga kurang mampu
itu. Bahkan bukan tidak mungkin ukuran 3 kg itu malah diperdagangkan oleh
para keluarga rumah tangga tidak mampu itu. Akibatnya harganya pun bisa
ikut melonjak. Maka, berantakanlah program pemerintah dengan elpiji untuk
rumahtangga kurang mampu itu. Tapi juru bicara Pertamina Wisnuntoro
mengatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi. Karena selama ini
elpiji 3 kg itu hanya diperuntukkan dan dipakai oleh masyarakat miskin.
Jadi, mereka (pengusaha makanan 15 kg) mau beli/borong dari mana? Dari
mana? Apakah yang tidak mungkin terjadi di negeri ini? Apakah yang tidak
bisa dipermainkan di negeri yang duit adalah segala-galanya ini? Baru hari
pertama saja mulai terjadi lonjakan pembelian tabung 3 kg. Wisnuntoro
mengatakan bahwa kelangkaan tidak mungkin terjadi karena saat ini
Pertamina sudah menyediakan tabung elpiji 3 kg sebanyak 11,7 juta unit.
Sedangkan ukuran 12 kg dan 50 kg sebanyak 29 juta unit. “Tiap tahun
jumlahnya akan bertambah. Jadi untuk masalah stok tabung bukan
masalah,” katanya. (Kontan, 26/08/08) Sebaliknya, Ketua Asosiasi
Industri Tabung Gas (Asitab) Tjiptadi memperkirakan memang akan terjadi
peralihan pengguna tabung gas elpiji dari 15 kg ke 3 kg, dan ini akan
menjadi masalah. Lantaran pasokan tabung elpiji 3 kg ke Pertamina seret
karena Pertamina belum membayar produsen pembuat tabung gas. Untuk hal
tersebut asosiasi akan bertemu dengan Wapre untuk berbicara tentanghal
tersebut. Anda percaya yang mana? Lain bicara juru bicara, lain bicara
Direktur Pemasaran Pertamina Achmad Faisal. Direktur Pemasaran itu
mengatakan bahwa Pertamina menyadari kemungkinan terjadinya peralihan
tersebut. Oleh karena itu akan memantau terus distribusi gas elpiji 3 kg
selama sepekan ini. Apabila dalam seminggu itu banyak masyarakat yang
beralih ke elpiji 3 kg Pertamina akan mengambil langkah khusus, di
antaranya pemberian sanksi. Maksudnya tentu adalah pemberian sanksi
terhadap distributor/agen Pertamina yang menjual tabung 3 kg itu kepada
masyarakat bukan dari kalangan ekonomi lemah. Apakahlangkahtersebut akan
efektif? Saya sangat meragukannya. Mekanisme apa yang akan dilakukan
Pertamina dalam pengawasan tersebut? Sampai hari ini kita tidak melihat
wujud dari langkah pengawasan tersebut. Pun kalau ada, apakah apakah
efektif dan bisa mencegah penyimpangan-penyimpnagan di lapangan? Saya
lebih percaya kalau pernyataan tentang pengawasan itu hanya omong doing.
Dalam prakteknya, tidak ada. Pengalaman menunjukkan kepada kita bahwa
semuanya itu hanya berakhir di pernyataan saja. Prakteknya akan berbeda
jauh. Sekarang, mari kita lihat dulu bagaimana perkembangannya.

written by : daniel_ht

—————

Ini rupanya biang keroknya yang membuat pemerintah melepas harga
elpiji ke pasar alias menaikan harga…______________________

____

Shell Ingin Jualan Elpiji 12
Kg

Alih Istik Wahyuni –
detikFinance

http://www.detikfinance.com/read/2008/08/26/142213/994862/4/shell-ingin-jualan-elpiji-12-kg

Jakarta – Raksasa minyak asal
Belanda, Shell berniat masuk ke bisnis elpiji di Indonesia
begitu Pertamina melepas subsidinya di elpiji 12 kg.

Bahkan jika berkembang, perusahaan migas ini juga akan
membangun infrastruktur pendukung seperti SPBE (Stasiun Pengisian Bahan Bakar
Elpiji) dan depo.

Demikian disampaikan Dirut Shell Indonesia Darwin
Silalahi saat mengisi Bimasena Business Forum di Hotel Dharmawangsa,
Jakarta, Selasa (26/8/2008).

“Kami tertarik di sektor elpiji. Tapi kerangka regulasi
di sektor ini perlu di-stabilize, sehingga mungkin bagi kami untuk masuk dan
mendapat marjin yang layak di setiap mata rantai bisnisnya,”
katanya.

VP External Relations Shell Indonesia Wally Saleh
menjelaskan, Shell tidak mungkin masuk ke bisnis ini dengan kondisi seperti
sekarang dimana Pertamina masih mensubsidi elpiji 12
kg.

“Kalau Pertamina masih subsidi 12 kg, kami nggak bisa
masuk dong. Makanya kita tunggu sampai ada regulasinya dulu,”
katanya.

Menanggapi ini, Dirut Pertamina Ari Soemarno mengaku
senang jika ada pemain lain yang masuk ke bisnis
elpiji.

“Kalau ada pemain lain yang masuk, Pertamina adalah
pihak yang paling senang. Karena suplai di masyarakat pasti terjamin,”
katanya.

Namun ia mengaku tidak bisa melepas subsidi elpijinya
dalam waktu dekat, karena itu berarti harus menaikkan harga jual
elpiji.

“Sekarang kita naikkan Rp 500 saja sudah heboh, apalagi
kalau langsung dilepas,” katanya.

Selain itu, Shell juga mengaku tertarik untuk masuk ke
sisi hulu migas Indonesia terutama untuk mengembangkan
energi unconventional dan yang lokasinya frontier. Menurutnya, Shell akan
membawa teknologi-teknologi yang sudah dikuasainya selama
ini.

“Tapi barangkali dengan kami membawa teknologi yang maju
ini kami bisa dapat premium terutama si signature bonus,”
ujarnya.

Saat ini Shell mengoperasikan 21 SPBU yang hanya menjual
BBM non subsidi. Dengan SPBU yang hanya segitu, menurutnya tidak ekonomis bagi
Shell jika harus membangun sampai
penimbunan.(lih/ddn)

Agustus 25, 2008

Lagi-lagi elpiji naik lagi-lagi, akan naik lagikah elpiji lain kali lagi?

Filed under: Uncategorized — myself @ 9:21 am

lukman_farid menulis di sebuah milis :

Hari Minggu 24 Agustus 2008 kemarin PT Pertamina kembali mengumumkan
kenaikan harga gas LPG [elpiji] untuk tabung 12 kg dan 50 kg.
Terhitung tanggal 25 Agustus 2008, harga jual Elpiji kemasan 12 kg
dari Rp.5.250,-/kg menjadi Rp.5.750,-/kg (naik sekitar 9,5 %) atau
naik dari Rp. 63.000,-/tabung menjadi Rp.69.000,-/tabung.

Adapun harga jual Elpiji kemasan 50 Kg, dikurangi diskonnya dari 15 %
menjadi 10 % atau dari harga Rp 6.878,-/kg menjadi Rp.7.255,-/kg.
Dengan demikian harga dalam kemasan 50 kg naik dari Rp.343.900,-
/tabung menjadi Rp 362.750,-/tabung. Sedangkan Harga jual Elpiji
tabung 3 kg masih tetap seperti yang lama yaitu Rp 4.250 /kg eks Agen
(Rp 12.750/tabung 3 kg).

Dalam siaran pers PT Pertamina tersebut lagi-lagi berkilah bahwa hal
itu bukan kenaikan harga tetapi penyesuaian harga. Alasan kenaikan
tersebut masih saja klise, penyesuaian harga jual Elpiji tersebut
perlu dilakukan karena :

Kenaikan harga jual LPG pada bulan Juli 2008 adalah untuk
mengakomodir kenaikan biaya operasional dan distribusi sehubungan
dengan naiknya harga BBM, serta masih belum mengakomodir harga bahan
baku LPG.
Untuk tahun 2008, rata-rata harga LPG di Pasar Internasional (Ref
harga CP Aramco) adalah sebesar 858 USD/MT dengan harga keekonomian
Rp 11.400,-/kg.
Dengan kenaikan tersebut di atas, Pertamina masih menanggung kerugian
akibat penjualan LPG kemasan 12 kg dan 50 kg sebesar Rp 6,5
Trilyun/tahun.
Hanya saja penyesuaian itu tidak hanya sampai di situ saja tetapi
akan terus disesuaikan setiap bulan dengan kenaikan Rp
500,00/kg/bulan. Untuk tabung 12 kg berarti kenaikan setiap bulannya
yaitu Rp 6000,00/bulan sedangkan untuk tabung 50 kg yaitu Rp
25.000,00/bulan.

Sampai kapan kenaikan berhenti? Kenaikan harga konon sampai mencapai
harga ekonomis. Untuk saat ini harga ekonomis gas elpiji yaitu Rp
11.400/kg atau harga ekonomis gas elpiji tabung 12 kg yaitu Rp
136.800,00 dan untuk tabung 50 kg yaitu Rp 570.000,00. Harga tersebut
akan terus berubah sesuai harga pasar dunia gas elpiji.

Ingatan saya kembali kepada kebijakan pemerintah terhadap konversi
minyak tanah ke gas elpiji. Dua kompor minyak tanah sudah saya
reduksi menjadi satu dan bersusah payah berganti elpiji. Saya harus
menyusun ulang strategi penggunaaan kompor di rumah demi stabilitas
asap dapur supaya tetap ngebul setiap hari. Membeli minyak tanah pun
sudah susah, gas elpiji harganya melambung tinggi dan alternatif lain
menggunakan briket batubara (saya punya tungku untukl briket batu
bara) juga tidak memungkinkan karena tidak mempunyai tempat untuk
tungku.

Menggunakan tungku briket batubara ataupun kayu haruslah mempunyai
dapur yang siap kotor oleh debu. Alternatif lain yaitu menggunakan
briket batubara, kayu, sekam, grajen kayu yang sementara saya
kesampingkan. Pilihan yang paling mungkin yaitu menggunakan listrik,
saat ini pun menanak nasi juga menggunakan listrik. Tetapi bukankah
menggunakan listrik juga melanggar himbauan penghematan listrik?

Beberapa tetangga yang semula menggunakan minyak tanah kembali
menggunakan kayu bakar untuk memasak. Kayu bakar yang dijual per ikat
biasanya merupakan kayu hutan rakyat atau dari hutan lainnya. Saya
membayangkan banjir bandang akan semakin besar di musim hujan
mendatang karena pohon-pohon akan semakin banyak ditebang sebagai
alternatif bahan bakar.

Kerugian akibat bencana sangat besar dan efek negatifnya terhadap
lingkungan niscaya akan sulit dan lama dipulihkan. Pernahkah dihitung
dan dibandingkan antara kerugian PT Pertamina akibat memberikan
subsidi minyak dan gas dengan kerugian akibat bencana?

Sebelumnya saya posting di
http://elfarid.multiply.com/journal/item/743

Agustus 5, 2008

TAKUT GAGAL PANEN ?

Filed under: Uncategorized — myself @ 9:11 am

alam,

Saat ini ketakutan-ketakutan manusia modern banyak diakibatkan oleh
bencana,bencana dan bencana. Tidak hanya bencana alam tapi juga
bencana yang sengaja dibuat oleh manusia itu sendiri ( meskipun tidak
secara langsung ) seperti GAGAL PANEN.

Kegagalan Panen disebabkan oleh 4 faktor utama,yaitu : AIR, BENIH,
PUPUK dan HAMA.

Ketiga faktor tersebut merupakan masalah utama dunia pertanian saat
ini,dan solusi untuk ketiga faktor tersebut sudah ada dan sudah
terbukti mampu mengatasi ketiga faktor penyebab kegagalan panen
tersebut.

AIR :
Jaman modern seperti sekarang telah banyak ilmuwan-ilmuwan yang
menemukan pupuk yang mampu mengikat dan menyimpan air lebih
lama,sehingga kelembapan tanah tetap terjaga selama musim kemarau dan
Tanaman pun dapat hidup di cuaca yang kering.

BENIH :
Sekarang sudah banyak benih padi yang secara khusus mampu hidup
dilahan kering / kekurangan air. Dan tentunya Petani akan lebih
diuntungkan karena tidak perlu terlalu sering mengairi sawahnya.

PUPUK :
Pemakaian Pupuk Organik dalam kenyataanya sanggup memberikan bukti
berupa panen yg meningkat sampai 100% dibandingkan dengan Penggunaan
pupuk Anorganik/pup uk kimia biasa. Jadi Kenapa pakai pupuk kimia
kalo pupuk organik lebih bagus.

HAMA :
Tekhnologi Modern dengan menggunakan pendekatan alam telah banyak
diterapkan dengan hasil yang Baik. Banyak pestisida-pestisida alami
dijual dipasaran dengan harga yang murah,atau jika punya waktu luang
pestisida organik bisa dibuat sendiri dengan biaya murah dan hasil
yang optimal.

Disadari bersama, begitu banyak pilihan untuk menjaga alam tetap
sehat dan kehidupan menjadi lebih baik. Tinggal bagaimana kita
mensikapi solusi-solusi pertanian tersebut.

Dan akhirnya, mari kita bersama mencerdaskan petani dan memulyakan
bangsa besar ini melalui pertanian yang ramah.
lingkungan.

SAVE OUR NATURE FOR NEXT GENERATION

Thx
Wahyu
03419101224

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.