Tentang Opini Masyarakat

Mei 14, 2008

Pertamina: Penyedot dan Pengambruk APBN, Rakyat Disuap BLT

Filed under: Uncategorized — myself @ 2:51 am

Saat ini Negara begitu morat marit di sisi finansial, karena banyaknya salah urus Pertamina, yang notabene mirip “Negara Pertamina” sehingga seakan-akan Pertamina perlu di subsidi. Padahal banyak sekali APBN keluar ke arah Pertamina berupa fasilitas superluks disana. Hal ini masih diperparah dengan kacau balaunya negara oleh murid-murid setia Mafia Berkeley. Rakyat kecil yang terinjak di tengah-tengah filosofi “Survival of the Richest” disuap dengan BLT untuk melanggengkan penggerogotan negara. Negara ini secara finansial sedang sekarat oleh eksternal. Berikut ini petikan Surat untuk Sri Mulyani dari masyarakat :

—-

(Dikutip dari milis Kompas – karya HMT Opposungu)
Jakarta 11-5-2008.
Kepada
Menteri Keuangan RI
Sri Mulyani.

Saya menyampaikan tulisan ini melulu untuk menyelamatkan harga diri dan
nama-baik intelektual Menteri. THERE IS NO FREE LUNCH.

There is no free lunch! Ke-5 kata ini merupakan inti hukum ekonomi-makro
yang sekaligus menggambarkan perbedaan antara ekonomi-makro dan ekonomi
mikro; dan juga menggambarkan perbedaan fundamental antara ekonomi
individu seseorang atau sebuah perusahaan.dengan ekonomi keseluruhan
(aggregate).

Bila saya membantu seseorang miskin, si miskin memang tertolong. Tapi bila
keseluruhan si kaya 22 juta di Indonesia membantu seluruh 220 juta si
miskin pasti aggregate usaha sosial tersebut akan gagal. Free lunch yang
bertambah untuk 22 juta tadi akhirnya akan menemui kegagalan, karena
pendapatan total akan berkurang, yang berarti pengeluaran aggregate
berkurang yang pada gilirannya akan mengurangi kegiatan produksi dan
Pendapatan Nasional.Ujung- ujungnya 22 juta orang miskin di Indonesia akan
semakin miskin lagi.
Paradox free lunch ini tergambar pula pada kenyataan bahwa jika seseorang
dengan susah payah memperoleh suatu pekerjaan dengan gaji yang rendah dia
memang tidak menganggur lagi, tapi memberi pekerjaan dengan gaji yang
lebih rendah dalam arti aggregate sama sekali bukan merupakan solusi untuk
mengentaskan keseluruhan penangguran.
Baik kemiskinan maupun pengangguran hanya bisa diatasi melalui peningkatan
investasi aggregate yang menciptakan lapangan kerja dan pendapatan total.
Itulah hukum ekonomi makro.

Paradox free lunch ini dapat pula kita simak dari pertandingan sepak bola.
Bila penonton di tribun barisan muka berdiri menonton pertandingan tadi,
maka otomatis penonton barisan belakang akan turut berdiri. Alhasil, hanya
penonton barisan muka saja yang paling menikmati jalannya pertandingan
sepak bola tadi. Jadi, tindakan free lunch yang keliru dilakukan oleh 2-3
orang akan mengganggu lunch keseluruhan penonton. Berarti: setiap tindakan
individu yang menjadi panutan keliru bagi umum akan berdampak fatal pada
keseluruhan penduduk. Demikianlah hukum ekonomi makro.

Itulah sebabnya mengapa Menteri Keuangan, Sri Mulyani keliru fatal dengan
APBN-nya. Sebab, dia menanganinya dari sudut keahliannya dalam ekonomi
mikro -Accounting- ketimbang berdasarkan ekonomi makro -Ekonomi Fiskal-.
Memang, Sri Mulyani berhasil memperoleh free lunch dengan tertutupnya
defisit APBN. Tapi, free lunchnya tadi berdampak fatal atas perekonomian
total. Bukan saja karena defisit APBN tadi yang sifatnya jangka pendek dan
sedianya ditutup dengan pinjaman rupiah jangka pendek dari dalam negeri,
tapi menutupnya melalui jalan panjang -roundabout- dengan memperoleh
pinjaman jangka panjang, apalagi dengan pinjaman dollar.
Sri Mulyani tidak pula menyadari pengkhianatannya terhadap rakyat, karena
penyicilan uang valas tadi dibebankannya pada generasi 10-32 tahun
mendatang. Tanpa dipikirannya lebih lanjut hukum ekonomi makro -menutut
mana- penyicilan tadi harus didasarkannya pada keniscayaannya menciptaan
valas over and above tersedianya valas rutin. Jika tidak menciptakan valas
baru tersebut pastilah generasi mendatang -dan bukan Sri Mulyani- akan
kelabakan menghadapi Krisis valas ke-2 setelah 1998.

Kekeliruan Sri Mulyani yang sangat fatal pula, adalah tindakan APBN-nya
yang memberikan subsidi kian kemari yang menjadi penyebab utama dari
defisit yang luar biasa besarnya dalam APBN.
Dengan rencana menaikkan harga BBM, Sri Mulyani akan memberikan free lunch
subsidi BTL pada segelintir rakyat miskin.BLT tersebut hanya merupakan
tipu muslihat saja dan dimaksudkan sebagai tindakan sosialnya pada rakyat
miskin yang sama sekali bukan menjadi korban langsung dari kenaikan harga
BBM. Justru, rakyat miskin keseluruhan yang pada akhirnya akan jatuh lebih
miskin lagi sebagai akibat langsung dari naiknya harga BBM tadi, tapi
dampak tersebut sama sekali tidak dipedulikannya. Belum lagi tidak
disadarinya bahwa para nelayan yang tidak akan melaut lagi. Tapi yang
lebih fatal lagi: Transportasi dan alat transportasi di seluruh Indonesia
akan diobrak abrik dan tidak mungkin bisa dipelihara dengan baik, karena
ongkos transport semakin tinggi sedang penerimaan pengusa transport akan
semakin kecil dibandingkan dengan perongkosan mereka yang semakin melonjak
lagi.
Subsidi free lunch juga diberikan Sri Mulyani kepada Bank Indonesia supaya
sanggup menciptakan Dana Korupsinya Rp 100 milyar. Juga APBN Sri Mulyani
menyediakan subsidi free lunch kepada DPR agar anggota-anggotanya bisa
menikmati kekayaan luar biasa tanpa selama ini melakukan kegiatan
legislatif murni yang berarti.

Kesimpulan: Sri Mulyani waspadailah kelicikan pihak luar negeri yang
dengan bantuan valas mereka hendak menjajah kembali seperti pada kejayaan
zamannya “Mafia-Berkeley” . Mereka ingin menyusup kembali ke negeri ini
dengan memperalat Sri Mulyani (dan Budiono), yang mereka ketahui adalah
murid setia dari Mafia tersebut.
Sri Mulyani sama sekali tidak memerlukan pinjaman valas yang merugikan
perekonomian Indonesia, tapi hanya pinjaman Rupiah, yang menjadi terganjal
gara-gara ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang BI 1999.
Sri Mulyani usahakanlah meyakinkan Presiden SBY supaya membatalkan
Undang-Undang ini dan segera menggantinya dengan InPres Darurat yang
memungkinkan Departemen Keuangan dapat meminjam kembali dari Bank Sentral
sebagaimana lazimnya berlaku di negara manapun.

Subsidi Free Lunch Bagi Pertaminalah Yang Paling Merusak Sendi-Sendi
Ekonomi Indonesia. Pertamina sudah bertahun-tahun lamanya mem-‘build-in’
budget negara-Pertamina dalam budget negara-RI.

Subsidi free lunch terbesar yang dinikmati Pertamina sungguh di luar batas
peri kemanusiaan jumlahnya. Bukan meningkat meningkat ratusan juta Rupiah
atau milyaran, tapi sekarang ini naik dengan triliunan 3-digit setiap
tahun.
*Coba Sri Mulyani lihat betapa banyaknya dan betapa luksnya perumahan staf
Pertamina beserta perabotnya. Semua luks tersebut dimungkinkan oleh
pembiayaannya dari subsidi free lunch APBN triliunan tadi.
Profesor, apalagi dosen rendah di Universitas Negeri tidak ada yang
memperoleh subsidi free lunch luks seperti yang diberikan APBN untuk
dinikmati Pertamina. Begitu juga luksnya kendaraan yang dimiliki semua
staf Pertamina.
Jangan tanya gaji atau uang pensiun staf dan karyawan Pertamina.
Seseorang pensiunan pegawai menengah saja bisa menerima uang pesangon Rp 7
milyar. Semua pembiayaannya dimungkinkan oleh subsidi free lunch APBN.
Harus diingat bahwa subsidi yang dinikmati Pertamina tersebut sifatnya
‘fungible’ adanya!!!

* Coba lihat pula semua rumah sakit bintang-5 Pertamina di seluruh
Indonesia. Semua staf dan karyawan Pertamina berbeda dengan PNS, tanpa
dasar apa-apa memperoleh perawatan gratis penuh dari dokter-dokter first
class yang disubsidi oleh Pertamina. Lagi-lagi ini bisa terjadi karena
disubsidi free lunch dari APBN. Begitu juga hotel-hotel dan penginapan
lainnya di daerah turis yang gratis diperuntukkan bagi peristirahatan staf
dan karyawan serta ‘tamu-tamu istimewa’ dari DPR, Yudikatif dan Eksekutif
serta teman-teman kolusi staf Pertamina di luar dan dalam negeri. Semuanya
-ujung-ujungnya dibiayai subsidi free lunch APBN.

* Kejahatan Pertamina yang paling istimewa kejamnya adalah pembentukan
anak-anak perusahaan Pertamina yang ditangani oleh sekelompok pengurus
oligarki pensiunan Pertamina. Sudah menerima pensiun milyaran Rupiah,
oligarki ini aktif kembali dalam anak-anak perusahaan Pertamina.
Oligarki inilah inilah yang kolusi dengan Pertamina sendiri menguasai
mark-up dan overcharge dari harga minyak mentah yang diimpor Pertamaina
dan dari ongkos pengangkutan dan distribusi BBM yang diproduksi kilang
minyak milik Pertamina sendiri. Lain lagi soal overhead costs dari
kilang-kilang minyak yang digelembungkan Pertamina dalam pembukuannya.
Semua ongkos-ongkos tadi ditutup oleh triliunan-3digit subsidi free lunch
dari APBN kepada Pertamina.
Oligarki inilah yang menciptakan Hotel Intercontinental, sekarang Hotel
Sultan. Oligarki ini juga yang menghadiahkan perumahan luks Pertamina
menjadi milik free lunch pribadi dari teman karib Suharto, seperti Jendral
A.Tahir, Prof. Emil Salim dll. Kesemuanya ujung-ujungnya hadiah free lunch
yang dibiayai subsidi APBN.

*Sangat paradoksal sekali, bahwa sekalipun merupakan Garong Terbesar Free
Lunch di Indonesia dan di dunia, Pertamina harus disubsidi lagi, karena
-kata Sri Mulyani, Purnomo Yusgiantoro dan Sofyan Djalil- perusahaan
tersebut mengalami rugi trilinan Rupiah sebagai akibat dari murahnya harga
BBM yang dikenakan Pertamina pada para konsumen BBM, namun budget
Pertamina setiap tahun memperlihatkan perolehan laba triliunan Rupiah yang
dibagi-bagikan sebagai tantieme-kolusi pada para Menteri, staf Kantor
pengaudit dan staf Migas. Semua itu dibiayai oleh subsidi free lunch yang
diberikan Sri Mulyani, yang pada dasarnya diturutkan Sri Mulyani hendak
dibiayainya dengan pinjaman valas dari luar negeri. What a genius she
is!!!

Kesimpulan Akhir.

Janganlah -setelah kekeliruannya terbongkar, Sri Mulyani lantas malu dan
mau menyerahkan jabatannya. Masih cukup kesempatan untuk merehabiliter
namanya.
Semua subsidi free lunch tersebut diatas dengan sangat mudah bisa dan
harus ditiadakan oleh Sri Mulyani dan dengan demikian pinjaman valas tidak
diperlukannya sama sekali. Begitu pula akibat dari semua subsidi free
lunch dari APBN yang merusak sendi-sendi perekonomian Indonesia bisa
ditiadakannya sekaligus.
Pertamina harus dirombak sampai ke akar-akarnya hingga berdiri hanya
sebagai perusahaan eksplorasi dan penghasil minyak mentah saja dan sama
seperti Caltex, Exxon atau Medco diperlakukan dengan kontrak bagi hasil.
Semua kebohongan dan sifat lintah darat Pertamina dengan sendirinya harus
dihilangkan seradikal-radikalny a, sambil Sri Mulyani, Purnomo Yusgiantoro
dan Sofyan Djalil menyerahkan budget Pertamina supaya diaudit oleh Price
Waterhouse.
Apa boleh buat, jika Jendral Endriartono Sutarto -kawan paling akrab dai
SBY- menjadi korban dari peniadaan subsidi free lunch yang dinikmatinya
1-2 tahun belakangan ini. Beliau pasti rela menerima pengunduran dirinya
dan tidak menerima free lunch lagi demi negara dan bangsa.

3 Komentar »

  1. Artikel di blog ini sangat menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com

    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com/pertamina_penyedot_dan_pengambruk_apbn_rakyat_disuap_blt

    Komentar oleh infoGue — Mei 15, 2008 @ 3:27 am | Balas

  2. jagan salah kasih blt kepada orang2 ky to masak blt untuk orang miskin malah diambil rang kaya yang mskin tuh sebenarnya sapa to

    Komentar oleh joko — Juni 14, 2008 @ 8:37 am | Balas

  3. Semoga program pemerintah akan terjalani lebih baik lagi.
    sebaiknya pemerintah ikut turun kelapangan untuk menyelidiki pembagian dana blt tersebut,
    sekalian bersilahturahmi sama penduduk indonesia

    Komentar oleh desi ahyani — April 29, 2009 @ 4:23 am | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: